Sabtu, 15 Oktober 2011

Move to http://matius513.wordpress.com

Move to http://matius513.wordpress.com

See you there.....

Rabu, 17 Agustus 2011

Who Am I?






note : for someone who looking for himself..

Minggu, 05 Juni 2011

Hari Pentakosta (10 hari setelah kenaikan Yesus Kristus ke surga)


Menjelang Hari Pentakosta, mari kita ambil bagian berpuasa bersama. Luangkan waktu untuk berdoa malam.

Note :
Berpuasa dari pagi hingga sore. buka puasa jam 5 sore.
Atau berpuasa sebagian, makan pagi, tidak makan siang hingga sore. buka puasa jam 5 sore.
Atau Berpuasa Daniel, boleh makan, tapi hanya sayur-sayuran.
Selama berpuasa, boleh minum air putih atau makan permen.

Rabu, 20 April 2011

Pacaran Sehat Ala Alkitab

Tuhan menginginkan yang terbaik untuk kita dalam setiap aspek kehidupan. Termasuk diantaranya hubungan kita dengan kekasih/pacar. Kita berkencan untuk mendapatkan kesenangan, persahabatan, pengembangan kepribadian dan memilih kawan, bukan untuk popularitas atau untuk merasa aman. Jangan biarkan lingkungan pergaulan memaksa kamu memasuki situasi kencan yang kurang pantas. Ketahuilah bahwa lebih dari 50% remaja putri dan lebih dari 40% remaja putra tidak pernah berkencan pada masa-masa SMA.

Alkitab memberikan kita beberapa pegangan yang jelas untuk membimbing kita dalam membuat keputusan mengenai soal kencan/pacaran. Jagalah hatimu. Alkitab mengatakan kepada kita untuk berhati-hati dalam memberikan/menyampaikan kasih sayang kita, karena hati kita mempengaruhi segala sesuatu dalam hidup kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Kamu akan menjadi seperti teman-temanmu bergaul. Kita juga cenderung menjadi seperti teman-teman sepergaulan kita. Prinsip ini berhubungan erat dengan yang hal yang pertama dan sama pentingnya dalam pergaulan seperti dalam hubungan kencan/pacaran. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33) Orang Kristen hanya boleh berkencan/berpacaran dengan sesama Kristen. Biarpun berteman dengan teman non-kristen tidak dilarang, mereka yang khususnya dekat di hati haruslah orang percaya yang sudah dewasa yang merupakan pengikut Kristus yang taat dalam hidupnya. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? ” (2 Korintus 6:14).

Apakah itu cinta yang sesungguhnya? 1 Korintus 13:4-7 mendeskripsikan cinta yang sesungguhnya. Tanyalah hatimu pertanyaan-pertanyaan berikut:
• -Apakah kalian sabar satu sama lain? Apakan kalian baik terhadap satu sama lain? Apakah kalian saling cemburuan?
• Apakah kalian suka menyombongkan baik diri sendiri maupun sang pasangan? Apakah ada kerendah-hatian dalam hubungan kalian? Apa kalian kasar memperlakukan satu sama lain?
• Apa kalian saling mementingkan diri sendiri? Apa kalian mudah marah terhadap satu sama lain? Apa kalian suka mengingat-ingat kesalahan sang pasangan di masa lalu?
• Jujurkah kalian satu sama lain? Apakah kalian saling melindungi? Apakah kalian saling mempercayai?

Kalau jawabanmu “Ya” untuk semua pertanyaan diatas, artinya 1 Korintus 13 seperti Firman Tuhan berkata, kalian sungguh saling mengasihi satu sama lain.

Kalau ada jawabanmu yang “Tidak” atas pertanyaan-pertanyaan di atas, artinya mungkin kalian harus Seberapa jauhkah terlalu jauh? Banyak pelajar-pelajar menanyakan, “Seberapa jauh yang kita boleh lakukan dalam berpacaran/berkencan?”

Beberapa prinsip yang akan menolongmu untuk memutuskan apa yang pantas dan yang tidak dalam berpacaran/berkencan: Apakah situasi yang kuciptakan mengundang dosa seksual atau menghindarinya?

1 Korintus 6:18 berkata “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! ” Kita tidak dapat melakukan ini apabila kita mencobai diri kita sendiri karena kecerobohan kita. Bagaimanakah reputasi sang kekasih/pacar? Ketika menerima undangan kencan pada dasarnya seperti berkata, “Aku memiliki kesamaan pandangan dengan engkau.” Hal inilah yang dapat membuat kamu menyesal nantinya.

Ingatlah 1 Korintus 15:33, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.” Apakah ada pengaruh obat-obatan atau alkohol? Jangan mengubah pandanganmu hanya untuk pacarmu. Apa aku tertarik dengan tipe orang yg salah? Yakinkan bahwa pesan yang kamu sampaikan dengan perbuatanmu tidak membuat orang lain mengubah pandanganmu.

Sadarkah aku kalau dosa itu terbit dari hati? Matius 5:28 berkata, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah dengan dia dalam hatinya” Apakah tempat berkencanmu tepat dan pantas? Tujuan yang baik kadang terlupakan oleh godaan dan kesempatan yang terlalu besar. Apakah aku melakukan sesuatu yang merangsang secara seksual? Jangan melakukan kontak yang merangsang seksual.

Tuhan itu pengampun. 1 Yohanes 1:9 berkata bahwa Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Kamu dapat mulai sesuatu yang baru dengan Tuhan kapanpun. Tuhan itu kudus. FirmanNya berkata bahwa dosa sex itu salah, dan Dia tahu segala yang terbaik. Tuhan itu penuh kasih. Tuhan tahu bahwa hubungan yang terlalu jauh sebelum pernikahan cenderung memisahkan sebuah pasangan dan mengakibatkan pernikahan yang kurang bahagia. Ia tahu bahwa banyak pria tidak mau menikahi wanita yang pernah berhubungan terlalu intim dengan pria lain.

sumber : http://blogkornel.wordpress.com/

Minggu, 17 April 2011

Jangan Ragukan Kasih Allah

Tidak seperti di malam-malam sebelumnya, Andre menghampiri ayahnya yang sedang menyelesaikan pekerjaan kantor untuk keesokan harinya. Dengan langkah gontai, bocah berusia 7 tahun itu berjalan menuju tempat dimana sang ayah berada.

Sesampainya di ruangan, Andre lalu menangis tersedu-sedu di samping kursi sang ayah. Kaget mendengar tangisan anaknya, sang ayah pun mengangkat badan buah hatinya tersebut dan menaruhkannya di paha kanannya. Dengan nada bicara yang penuh kelembutan, ayahnya menanyakan kondisi Andre.

“Nak, kamu kenapa nangis?,” ujar sang ayah.

Sambil terisak-isak, Andre menjawab pertanyaan ayahnya, “Andre menangis karena ayah gak sayang Andre”.

Mendengar jawaban sang anak, Ayahnya pun kembali melontarkan pertanyaan, “Mengapa kamu bisa bicara seperti itu?”

Andre yang masih menangis berkata, “Hanya perasaan aku saja”

Sang ayah pun tersenyum dan mulai memeluk erat anaknya tersebut, “Andre, andre. Ayah tuh sayang banget sama kamu”

“Apakah selama ini, ayah berlaku jahat sama kamu? Kalau ayah pernah memukul kamu, itu pun kalau kamu berbuat nakal. Ayah melakukan itu bukanlah karena ayah membenci kamu tapi karena ayah ingin kamu sadar dengan perbuatan kamu tersebut”

“Kamu buang-buang jauh perasaan kamu itu. Ingat ya Andre, ayah tuh sangat sayangggg sama kamu,” ujar ayah sambil memeluk erat anaknya itu.

Perlahan tapi pasti, volume tangisan Andre semakin berkurang. Tak menunggu waktu lama, wajahnya kembali sumringah. Andre pun menghadiahkan ciuman ke pipi ayahnya sebagai bentuk tanda ia juga mengasihi ayahnya. Malam itu pun dilalui Andre dan sang ayah dengan tidur bersama di ruang kamar tidur buah hatinya.

Tanpa kita sadari, kita suka melakukan kepada Allah, perbuatan yang seperti apa di oleh Andre kepada ayahnya. Kita menangis dan meragukan kasih setia-Nya ketika keinginan doa-doa kita tidak terkabulkan. Padahal, DIA sudah berulang-ulang kali menunjukkan rasa cinta-Nya kepada kita.

Kematian Tuhan Yesus di kayu salib ribuan tahun yang lalu adalah bukti paling terbesar bagaimana ia begitu menyayangi kita. Jika begini, haruskah kita meragukan kasih-Nya dalam hidup kita?
Sumber : jawaban.com

Sabtu, 02 April 2011

Jumat, 25 Maret 2011

Masih Ada Tuhan..

1. Latar belakang
Allah adalah kasih. Adam adalah wujud kasih Allah untuk mengasihi. Karena kerinduan Allah maka diciptakanNya manusia. Adam hidup dalam hubungan yang harmonis dengan Allah di taman Eden, yang tidak dibatasi oleh waktu, ruang dan tempat. Adam dikasihi oleh Allah. Ketika Allah melihat kebutuhan Adam untuk mencari seseorang yang serupa dengannya, Allah membuatnya tidur, lalu mengambil tulang rusuk Adam, dan dibangunkannya seorang perempuan. Ketika Adam bangun, bersukacitalah ia. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”(Kejadian 2: 23).

Hingga suatu ketika, datanglah iblis mencobai perempuan itu (hawa) agar mau makan buah pengetahuan yang dilarang oleh Allah. Buah pengetahuan itu menarik perhatian hawa, dan ia pun tergiur untuk mencobanya. Dengan iming-iming dapat menjadi seperti Allah, hawa makan dan membagikannya juga kepada adam. Adam jatuh dalam dosa dengan melanggar perintah yang sudah disampaikan Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Hubungan harmonis antara adam dan Allah terputus. Adam tidak lagi kudus dihadapan Allah. Adam adalah manusia yang berdosa. Dan mereka pun diusir dari taman eden.

Kejatuhan manusia pertama dalam dosa berakibat panjang hingga sampai keturunan demi keturunan. Semua manusia yang merupakan keturunan adam merupakan ahli waris dosa adam. Dosa inilah yang menjadi penghalang hubungan kita dengan Allah, seperti hubungan adam dan Allah saat kejatuhan dosa itu.

Bagaimanakah dampak dari dosa itu? Adalah penyakit, penderitaan, kesusahan, putus pengharapan, tidak ada masa depan, kehilangan, kebencian, balas dendam, kematian dan kebinasaan.Masih banyak lagi dampak-dampak dosa yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.Lalu, bagaimanakah kita keluar dari dosa tersebut? Apakah kita ditakdirkan untuk mati dalam kebinasaan yang kekal? Apakah selamanya kita tidak dapat memulihkan hubungan kita dengan Allah, yang adalah pencipta manusia?Apakah kita tidak ambil peduli hubungan antara kita dengan Allah?

2.Kelahiran Yesus
Bila saudara sedang mencari jalan untuk mendekati Allah dengan cara saudara sendiri, maka sia-sialah upaya dan usaha saudara. Tidak ada jalan lain yang bisa memulihkan hubungan kita dengan Allah. Karena Allah adalah kudus, dan kita adalah manusia yang berdosa. Siapakah manusia yang didapati kudus? Tidak ada. Kita telah mewariskan dosa dari nenek moyang kita, yaitu adam. Namun Allah adalah setia. Ia tidak membiarkan manusia hidup dalam derita dan kebinasaan yang kekal. Upah dosa adalah maut. Ia mengasihi kita. Dan pada mulanya Allah menciptakan kita oleh karena kasihNya. Allah tidak meninggalkan kita, tapi Allah telah merancangkan penebusan kita agar kita dapat kembali padaNya.

Pada zaman dahulu, manusia membawa korban sembelihan berupa kambing, domba ataupun burung untuk penebusan dosa. Hal itu dilakukan setiap tahun, berulang-ulang. Tapi Allah punya rencana yang lebih indah buat manusia. Sebuah korban persembahan yang kudus, tidak bercacat, tidak bercela, dan layak dihadapan Allah. Cukup satu kali dilakukan. Tidak ditemui siapapun dimuka bumi ini yang layak dipersembahkan di hadapan Allah. Hanya satu jalan.

Yaitu Yesus. Yesus adalah Anak Allah. Hanya Yesus yang layak dipersembahkan di hadapan Allah sebagai korban penebusan dosa manusia. Allah sudah merancangkannya sejak kejatuhan manusia dalam dosa. Yesus harus lahir ke dunia dengan mengambil rupa seorang hamba. Yesus lahir bukan dari hasil hubungan suami-isteri, bukan dari darah dan daging, tapi dari Roh Kudus. Bila Yesus lahir dari darah dan daging atau dari hubungan manusia, maka Yesus pun mewariskan dosa adam. Dan ia tidak layak dipersembahkan dihadapan Allah.

Yesus dikandung dalam tubuh manusia, yaitu Maria, seorang perawan. Kelahiran Yesus sudah dinubuatkan oleh para nabi sebelumnya. Yesaya 9: 5 “ sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada diatas bahunya, dan namanya disebutkan orang : Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Matius 1: 21 “ Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. “

Yesus lahir untuk menebus dosa kita, menyelamatkan kita dari kebinasaan yang kekal. Ia lahir untuk mati diatas kayu salib sebagai korban penghapus dosa manusia.
Selama pelayanan-Nya dibumi, Ia banyak menyembuhkan orang-orang sakit, orang-orang kerasukan dan bahkan membangkitkan orang mati. Sekalipun demikian, Yesus tetap hidup dengan keterbatasan manusia. Yesus hidup selayaknya manusia hidup saat itu. Ia bekerja sebagai anak tukang kayu. Ia tidak menggunakan kuasaNya untuk kemudahan hidup. Maka Yesus juga dapat merasakan keterbatasan dan penderitaan manusia. Demikianlah Yesus, Ia seorang yang sederhana dan rendah hati.

Matius 11: 28-29 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Demikianlah ajakan Yesus untuk saudara.

3. Kasih yang Sempurna
Setiap manusia membutuhkan kasih. Tidak ada seorangpun dapat hidup tanpa kasih. Sekalipun ada yang lahir diluar pernikahan atau tanpa dikehendaki oleh orangtua, tetap merupakan buah kasih dari orang tua. Jika dalam sepanjang hidupnya ia tidak merasakan kasih dari orangtua, namun ia hidup dari kasih Allah. Dan itulah yang membuatnya tetap bertahan hidup sampai saat ini. Semuanya karena kasih Allah.

Kasih manusia terbatas. Manusia mengasihi dengan syarat dan ada batasannya. Tapi kasih Allah tidak memandang status, jabatan ataupun kondisi. Matius 5:45 “ Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. “

Jika saudara masih tidak dapat melihat dan merasakan kasih Allah, maka pandanglah Yesus diatas kayu salib. Itulah bukti nyata kasih Allah terhadap saudara. Yesus sudah “dikirimkan” oleh Allah buat saudara, Dia lahir untuk mati buat saudara. Yesaya 53: 5 “ Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

Dia datang membawa keselamatan bagi hidup saudara. Bukan itu saja, segala dosa saudara telah dihapus oleh Nya, hidup saudara telah ditebus oleh darah Yesus. Itulah kasihNya buat saudara. Bagi Yesus, buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya. Hidup saudara berarti bagi Yesus. Hanya ada satu kasih yang sempurna , yaitu kasih Yesus.

4. Masih ada Tuhan
Kasih Yesus memulihkan segala sesuatu. Hubungan kita dan Allah telah dipulihkan oleh Yesus, melalui kematianNya diatas kayu salib, sebagai korban penebusan dosa. Kita yang dahulu jauh dari Allah, kembali dapat dekat kepadaNya. Semua karena darah Yesus yang telah tercurah buat kita.

Karena hubungan manusia dengan Allah telah dipulihkan oleh darah Yesus, maka kita layak untuk memanggil Allah sebagai Bapa di Surga. Doa-doa kita didengar dan dijawab oleh Bapa, dan keselamatan kita dijamin oleh Yesus yang adalah Putera-Nya yang tunggal. Tidak ada lagi penghalang bagi kita untuk dekat dengan Bapa di surga.
Yesus sebagai pengantara kita dengan Bapa. Demikianlah hendaknya kita berdoa, Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus.

Setelah kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, apakah itu akhir dari hidup kita di dunia? Tentu tidak.
Yesus yang telah menjadi Tuhan dan Juru Selamat kita memiliki rancangan hidup yang baru buat kita. Sebuah rancangan hidup yang penuh damai sejahtera dan indah dan memuliakan namaNya.

Masalah boleh datang. Tapi ingatlah, bahwa Yesus selalu menyertai kita dan tidak akan membiarkan kita sendirian menjalaninya. Yesus itu setia. Dia memberikan kita kekuatan dan penghiburan serta pengharapan bahwa kita pasti sanggup melewatinya. Dia akan buka jalan keluar dan kita pasti berkemenangan bersama-Nya.

Apapun kondisi saudara saat ini, dirudung masalah silih berganti, tidak punya pengharapan, kehilangan pasangan hidup, masa depan suram, tidak punya tujuan hidup, sakit, pernikahan hancur, putus asa, dan lainnya, ingatlah masih ada Yesus yang setia dan yang mengasihi saudara, menerima saudara apa adanya.

Ya, Yesus sungguh-sungguh mengasihi saudara! Dia menerima saudara apa adanya! Dia menghargai saudara. Bagi Yesus, saudara adalah orang yang penting. Dia rela mati diatas kayu salib agar saudara beroleh keselamatan dan kehidupan yang kekal, masa depan yang cerah dan pengharapan yang baru. Masih ada Yesus buat saudara!
5. Kesimpulan
Bila saudara mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka ikutilah doa berikut ini :

Bapa kami yang di sorga,
Pada hari ini aku mau membuka hati dan pikiranku untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatku.Aku mengakui bahwa aku adalah manusia yang berdosa dan berharap akan pengampunan dariMu. Masuklah dalam hatiku, Yesus. Jadilah Tuhan dan Juru Selamatku. Aku percaya dosaku telah diampuni dan hidupku telah ditebus oleh darah-Mu diatas kayu salib. Aku percaya Engkau lahir, mati dan bangkit untukku. Terima kasih Yesus atas pengorbananMu. Biarlah Engkau memulihkan hati dan hidupku sesuai dengan kehendakMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, aku telah berdoa dan mengucap syukur. Amin.


Selamat! Saudara telah menjadi warga Kerajaan Allah dan memperoleh keselamatan dan kehidupan yang kekal. Selamat menempuh kehidupan yang baru bersama Yesus Kristus. Jangan lupa, datanglah ke gereja Tuhan di sekitar lokasi rumah saudara dan mintalah untuk dibaptis. Tuhan Yesus memberkati..

Jumat, 11 Maret 2011

Kesempatan kedua bagi Klarisa

Nama saya Klarisa Alodya Yane, saya sempat shooting untuk beberapa iklan provider, kemudian di FTV sebagai peran pendukung maupun peran utama. Waktu shooting yang tidak pasti seringkali membuat anak-anak mengeluh karena mereka terkadang juga ikut ke lokasi shooting.

“Nunggunya lama, Pi.. Kok ngga selesai-selesai sih..” demikian keluh anak-anak pada suami saya, Imam Santoso.

Akhirnya karena kasihan pada anak-anak, saya memutuskan untuk meninggalkan dunia entertainment itu. Namun baru saja memutuskan untuk meninggalkan aktivitas shooting, sebuah tawaran bagus datang. Dirumah, saya membicarakan tawaran ini kepada suami. Dia bilang terserah, saya juga berpikir kita kan juga lagi butuh, “Ya udah deh.. coba aja dulu.”

Bencana itu tidak pernah di duga

Sewaktu shooting sutradara memberikan pengarahan, “Story boardnya seperti ini. Iklan ini akan masuk rekor MURI, karena balonnya itu paling besar se-Indonesia. Jadi iklan ini dibuat se-real mungkin.”

Jadi waktu itu kita lagi olahraga di sekitar Sudirman situ, supaya yang lain itu mau ikut bermain dengan balon itu, jadi seneng sama balon itu. Wah.. kayanya fantastis deh..

Dengan semangat kami siap-siap untuk shooting balon besar tersebut. Malah sempat foto-foto dulu.. sama sekali tidak menyangka akan ada bahaya besar menanti. Beberapa talent saat itu disuruh kumpul dan diminta pegang balon tersebut.

“Action…” teriak sang sutradara..

Tapi tiba-tiba terdengar suara sangat keras… “Duar..!”

Saya sempat merasa agak terlempar. Saya lihat teman-teman mukanya sudah hitam-hitam, rambutnya berdiri-berdiri, sampai pengen ketawa. Tapi saya sendiri merasakan perih banget di muka, tangan dan kaki. Saya lihat teman saya juga mukanya pada terkupas-terkupas seperti itu.

“Panas..! Panas..!” teriak mereka. Saya juga merasakan memang panas sekali. Pas lihat-lihat, tangan saya sudah lengket. Telapak tangan ini sudah penuh minyak dan darah, serta tidak bisa digerakkan. Sambil nahan sakit, saya Cuma berkata, “Tuhan tolong saya ! Tuhan tolong saya!”

Waktu itu sebenarnya mau jalan juga sudah agak susah. Namun teman saya ini berkata, “Kita harus ke rumah sakit. Kita harus minta tolong..” Sambil nangis dan teriak panas, panas, minta tolong, akhirnya ada satu orang mbak wardrobe bilang, “Mbak Yane sini, ikut mobil wardrobe aja sini.” Saya sudah ngga bisa apa-apa, jadi minta tolong untuk telephonin suami saya.

“Segera ke rumah sakit, karena ada kecelakaan..” demikian ucap wanita bagian wardrobe yang menolong Yane kepada Santoso. Suami saya sama sekali tidak terbayang kecelakaan apa yang telah terjadi saat itu.

Panas dan sakit tak tertahankan, itu yang saya rasakan saat itu. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, semuanya terasa sakit. Tiba di rumah sakit, dalam keadaan setengah bingun kami mencari pertolongan. Semua orang berebutan minta untuk dirawat duluan. Mereka juga sakit juga dan merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang mendera. Dokter waktu itu berkata, “Bu, tunggu dulu ya. Disana ada yang lebih parah..”

Saya tidak tahan dengan rasa sakit yang saya rasakan, dan berlari kesana kemari untuk meminta pertolongan. “Aduh dok, aku juga sama parahnya. Aku sudah ngga tahan dokter! Tolong..! Tolong!”

Mengalami masa kritis

Saat itu semua dokter sibuk, hingga tiba-tiba saya terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri.

Santoso tiba di rumah sakit dan melihat kondisi disana sangat ramai, “Saya bertanya-tanya, ini sebenarnya kecelakaan apa. Saya tanya sama susternya, ‘Bu ini ada apa..?’ Dia jawab, ‘Oh, ada balon meledak.’ Saya pikir balon yang meledak segede apa sih? Tapi begitu masuk, ternyata dia sudah merah-merah semua. Itupun jujur saya belum tahu karena pas saya dateng sudah dibungkus. Tangan dan kaki dibungkus perban. Tingkat keparahannya saya tidak tahu.”

Karena tidak tahan dengan rasa sakit itu, saya pingsan. Waktu tidak sadarkan diri itu, saya rasakan nyaman banget. Sama sekali tidak merasakan sakit.

“Terima kasih Tuhan, aku kayanya sudah enak banget nih..”

Saya melihat sebuah sinar putih, dan sepertinya saya disuruh memilih. “Duh, ini enak banget nih.”

Tapi waktu itu saya mendengar suara suami, “Ingat Jeva, ingat Fay..” Saya sendiri bertanya-tanya, “Ini dimana ya, kok rasanya senang banget… Nyaman banget..?”

Dokter melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan Yane, mulai dari memompa jantungnya hingga menggunakan alat kejut jantung.

Tiba-tiba di dada terasa kencang, hingga akhirnya saya sadar dan merasakan lagi sakitnya. Perih, panas, semuanya campur aduk. Dokter saat itu bilang, “Ayo.. bangun-bangun..” Akhirnya saya dipindahkan ke ruangan ICU.

Anakku takut melihat wajahku

Saya ngga bisa terbayang bagaimana keadaan wajah saya, sampai-sampai anak-anak saya sendiri ketakutan saat melihat wajah saya. Pertamanya dia lihat, dia bilang, “Bukan, itu bukan mami..”

Kalau anak kecil takut, berarti parah banget kan.. Mungkin bagi dia mengerikan. Akhirnya, mereka ngga mau melihat saya. Suami saya akhirnya ajak mereka keluar, mungkin karena takut saya dengar macem-macem. Setelah dikasih pengertian sama papinya, akhirnya anakku masuk dan mulai pegang saya.

Aku ingin mati saja

Tiap tiga hari sekali, perban harus diganti. Waktu pergantian perban itu, saya harus merasakan sakit yang amat sangat. Waktu itu aku pikir, aku sudah lewat kali ya. Kayanya mau loncat, atau mau gimana. Karena memang terbaringkan, aku ngga bisa diri. Waktu dibuka perbannya, aku teriak-teriak. Suamiku cuma pegangin dan bilang, “Udah.. sabar..sabar..”

Tolongin… tolongin.. Aku juga teriak-teriak : Jangan! Jangan! Aku ngga mau diganti perbannya. Perih banget! Dokter ngga mau.. ngga mau..!

Dokter itu cuma bilang, “Tahan.. tahan..”

Saya selalu menyesali, “Tuhan, kenapa ini terjadi sama saya? Kenapa sih Tuhan? Kenapa sih Tuhan?”
Saya bilang sama suster, “Suster tolong aku. Aku ngga tahan, aku ngga kuat lagi suster. Beneran, aku ngga kuat lagi. Suntik mati aja aku.”

“Ngga bisa..” dia bilang begitu.

“Suster takut?” Aku sampai jadi marah sama suster itu. “Suster kenapa suster ngga mau? Kan aku yang mau, nanti aku tanda tangan! Suster, ini aku dah ngga tahan banget. Sekarang tolong ambil!”

Suster itu cuma bilang, “Sabar ya bu.. sabar.. Ibu tetap cantik kok.. ”

Suster itu akhirnya cuma mengelus-ngelus saya. “Ibu pasti bisa ngelewatin ini..” ucapnya.

Mukjizat itu terjadi

Akhirnya masa kritis itu lewat juga, namun harapan untuk pulih kembali menghilang saat dokter bilang luka bakar itu ngga ada yang sembuh seratus persen. Berarti saya ngga bakalan sembuh dong. Saya cuma tanya, “Berarti mukaku ngga balik nih? Mukaku masih begitu Tuhan, geradakan..? Gimana Tuhan, aku ngga bisa kaya gini?” Banyak deh yang membuat saya mempertanyakan Tuhan.

Hingga suatu malam saya diingatkan, “Yane, Tuhan itu dulu dicambuk. Dia melewati yang susah juga, sakit, bahkan mungkin lebih sakit dari yang kamu alami sekarang.”

Oh ya.. ya.. Tuhan dulu dicambuk berkali-kali sampai berdarah-darah. Jatuh bangun lagi, jatuh bangun lagi. Masa aku ngga bisa.

Setelah saya baca Roma 5:3-5 yang berkata, “Tetap berharap, karena pengharapan Tuhan itu tidak akan mengecewakan.” Saya jadi flash back lagi, gimana saya bisa sampai masuk ke dunia entertainment sampai kejadian ini. Disitu saya diingatkan untuk berharap terus.

Saya mulai mengerti dan belajar menerima. Saya tidak perlu mempertanyakan Tuhan. Tapi bagaimana saya menghadapi kedepannya? Saya Cuma bisa berserah. Saya Cuma yakin dan percaya Tuhan pasti menyembuhkan. Kalau saya diberikan kesembuhan, berarti saya diberikan kesempatan lagi untuk berbuat yang lebih baik. Dan tiap malam, tiap hari aku selalu dengar lagu Mukjizat Setiap Hari.

Selama ku menyembahMu.. kupercaya

Bahwa Mukjizat masih terjadi…

Selama kau besertaku…kumelihat…

Ada mukjizat setiap hari..

Disitu saya mulai berdoa lagi, mulai percaya bahwa saya pasti bisa sembuh. Mukjizat Tuhan pasti masih terjadi setiap hari. Yang penti selama kita masih menyembah Dia, Tuhan pasti kasih kesembuhan. Dengerin lagu itu, saya makin dikuatkan. Sampai akhirnya saya merasa Tuhan pasti akan memulihkan saya. Sekalipun saat itu saya belum bisa melihat, tapi saya percaya Tuhan pasti akan memulihkan. Tuhan pasti akan memberikan mukjizatnya buat saya.

Setelah satu bulan di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Melihat kulitku ini sekarang, mukjizat Tuhan itu benar-benar terjadi sama saya. Tuhan itu benar-benar berikan kesembuhan yang sempurna buat saya. Waktu itu sempat saya ragu, apa Tuhan bisa sembuhkan. Tapi kalau membandingkan kondisi saya yang dulu dengan sekarang, saya bisa berkata Tuhan itu maha menyembuhkan, maha besar.

Tuhan Yesus, terima kasih atas mukjizat-Mu yang Engkau nyatakan dalam hidupku. Atas peyembuhan-penyembuhannya. Atas berkat-berkat yang Engkau berikan pada keluarga kami ya Tuhan. Mukjizat-Mu nyata dalam kehidupan kami. Kalau saya masih ada sekarang ini, dengan kondisi yang seperti ini, itu benar-benar mukjisat Tuhan. (Kisah ini ditayangkan 11 Maret 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian:

Klarisa Alodya Yane
(diambil dari : Jawaban.com

Kamis, 24 Februari 2011

Selamat karena Menolong orang lain

Ada cerita mengenai seorang pejalan kaki yang mengadakan perjalanan dimalam bersalju yang tebal dan dingin dibawah nol derajat di New England. Ia sudah begitu lelah dan tahu kakinya sudah beku. Dan ia merasa tidak dapat bergerak lebih jauh lagi. Hatinya mulai tergoda untuk menyerah dan ingin berbaring di atas salju. Tapi ia sadar itu berarti kematian. Sementara ia terus berjuang dan berjalan di atas salju, kakinya terantuk pada sebuah gundukan. Dan ternyata gundukan itu adalah tubuh seseorang. Ia membalikkan tubuh orang itu dan melihat bahwa orang itu masih hidup. Hatinya bergumul antara ditinggal atau ditolong. Ia merasa tenaganya sendiri saja seperti tinggal menunggu ajal. Ia merasa tidak mungkin menolongnya. Karena ia sendiri sedang berjuang untuk hidup.

Tapi tiba-tiba rasa belas kasihan mulai berkobar dalam dirinya. Dan ia merasakan ada sesuatu yang bergejolak yang memberi semangat baru untuk hidup bagi dirinya dan bagi orang yang ditolongnya. Ia mulai berbicara padanya dan mencoba untuk menggosok kaki tangan orang itu. Ia angkat orang itu dengan sisa tenaganya. Mulai berjalan berjuang menempuh jalan bersalju sambil membopong orang itu. Tidak lama kemudian ia menjadi berkeringat ia merasakan aliran darahnya mulai mengalir kembali pada anggota tubuhnya. Di kejauhan ia melihat cahaya dan ia maju terus mendekati cahaya itu. Dan akhirnya jatuh rebah tepat di depan pintu rumah orang itu.

Rumah itu adalah milik seorang petani bersama istrinya dan mereka menyeret dua tubuh laki-laki setengah kaku itu. Membawanya ke tempat perapian dan menghangatkannya. Memberikan makanan dan minuman hangat dan tempat tidur. Orang yang ditolong mengucapkan terima kasih kepada penolongnya karena telah menyelamatkan jiwanya. Pejalan kaki dari New England ini berkata,”Saya pun senang bertemu dengan anda. Oleh karena telah menolong hidup anda sebenarnya saya juga menyelamatkan hidup saya sendiri. Karena tadinya saya juga sebenarnya mau menyerah.”

Setiap usaha dan tugas yang dibuat untuk orang lain sebenarnya justru juga untuk mendatangkan keuntungan bagi diri kita sendiri. Kalau kita melukai orang lain maka sebenarnya kita juga melukai diri kita sendiri. Setiap kita memberkati orang lain, maka kita juga memberkati diri kita sendiri. Setiap kata simpati yang diucapkan pada orang yang berduka, sering juga melepaskan simpati pada diri kita sendiri.

Sebuah artikel mengatakan bahwa kesukaan berbuat baik pada orang lain memberi cahaya pada perasaan-perasaan yang memancar melalui syaraf, mempercepat sirkulasi darah dan mendukung mental bahkan kesehatan tubuh. Maka dari itu marilah kita belajar berhikmat dan bijaksana dengan melihat kebutuhan-kebutuhan orang lain. Karena kita akan dibuat antusias dan bergairah dalam hidup.

Sumber : Inspirasi Kehidupan

Kamis, 10 Februari 2011

Rumah dengan Jendela Emas

Ada seorang gadis kecil hidup di sebuah rumah yang sederhana. Seringkali ia merasa menyesal dilahirkan di keluarga miskin seperti itu, apa lagi ketika ia melihat ke seberang lembah dimana terdapat sebuah rumah besar di bukit dengan jendela yang terbuat dari emas berkilauan tertimpa sinar matahari. Gadis kecil itu membayangkan bagaimana indahnya jika ia dibesarkan di rumah dengan jendela-jendela emas itu, dan bukannya di rumah kecil seperti ia tinggali saat ini.

Sekalipun ia mencintai ke dua orangtuanya, dia tidak pernah bisa menghapus keinginan untuk bisa tinggal di rumah besar dengan jendela emas itu. Mimpi itu terus ia simpan hingga ia bertumbuh besar.

Suatu hari ketika ia telah cukup besar dan memiliki ketrampilan yang cukup untuk keluar dari pekarangan rumahnya, dia meminta ijin pada ibunya untuk bisa bersepeda di luar pagar rumahnya dan turun menuju lembah. Setelah memohon-mohon pada sang ibu, akhirnya gadis itu diijinkan asalkan tidak pergi terlalu jauh dari rumah.

Hari itu adalah hari yang cerah dan indah, serta gadis itu tahu pasti kemana tujuannya, dia mengarahkan pandangannya kerumah besar dengan jendela-jendela emas itu. Namun setelah bersepeda cukup jauh dan menaiki bukit di mana rumah itu berada, ia sangat kecewa. Setelah dilihatnya dari dekat, ternyata rumah tersebut tampak tidak terawat dan jendelanya pun tidak terbuat dari emas, bahkan terlihat kotor. Rumah itu tidak tampak seperti yang ia lihat selama ini dari jauh, hanya sebuah rumah yang tidak berpenghuni dan tidak terawatt.

Dengan sedih ia akhirnya memutuskan pulang. Ia memutar sepedanya dan beranjak untuk kembali ke rumahnya. Saat ia mengangkat wajahnya, gadis itu tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Dari sisi bukit dimana ia berada saat ini, ia bisa melihat rumah mungilnya, dan jendela itu.. jendela dimana ia biasa merenung terlihat berkilau bagai emas ditimpa sinar matahari sore.

Gadis kecil itu akhirnya sadar bahwa selama ini ia hidup di sebuah rumah dengan jendela emas seperti yang diimpikannya selama ini. Rumah itu penuh dengan kehangatan dan cinta dari orangtuanya. Semua yang ia impikan sebenarnya ada di dekatnya, namun karena ia terfokus pada rumah lain, ia tidak pernah melihatnya.

Apa yang dialami oleh gadis kecil dalam cerita diatas seringkali kita alami. Kita sering memandang rumput orang lain lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita sendiri. Hasilnya, kita tidak bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Jadi, mulai saat ini ayo kita ubah cara kita memandang, lihatlah bahwa setiap anugrah Tuhan dalam hidup kita adalah sesuatu yang berharga.

sumber : jawaban

Jumat, 04 Februari 2011

11 Resolusi Baru bagi orang tua ditahun 2011




Saya selalu bersyukur ketika menyadari bahwa Tuhan menciptakan pagi hadir setiap hari. Sebab pagi mengawali hidup dengan sesuatu yang baru. Bahkan ketika malam dilalui dengan berat, pagi selalu menyediakan harapan baru. Demikian pula tahun baru. Segala kepenatan dan perjuangan keras di tahun yang lalu boleh dijalani dan dilewati. Namun tahun yang baru memberi pengharapan bahwa hari depan akan dijalani dengan jauh lebih baik. Sebab itu, wajar bila seseorang kemudian memiliki resolusi di tahun baru—sebuah pembaruan komitmen untuk melakukan hal yang lebih baik di tahun yang baru, dengan energi dan semangat baru yang membara.

Khususnya sebagai orangtua, kita juga dapat menyusun resolusi tahun baru yang positif. Yakni, menjadi orangtua yang lebih baik, khususnya bagi anak-anak titipan Tuhan, di tahun 2011 ini. Apa sajakah kiranya resolusi yang dapat diambil orangtua? Berikut adalah beberapa resolusi yang dapat menjadi komitmen Anda dan saya.

1. Lebih banyak menyediakan waktu bagi anak-anak
Mari berkomitmen dan mengusahakan untuk selalu memiliki waktu untuk bersama anak, setiap hari. Bahkan untuk bermain bersamanya, tak hanya “mencarikan mainan” atau “menemaninya” bermain di arena permainan di mal atau pusat hiburan. Sungguh-sungguh ada dan memberi perhatian bagi anak-anak. Charles Francis Adams, seorang diplomat dan tokoh politik abad 19, biasa menulis buku harian. Suatu hari ia menulis demikian: “Pergi memancing dengan anak laki-lakiku—satu hari terbuang begitu saja.” Putranya, Brook Adams, juga biasa menulis buku harian, yang masih ada hingga sekarang. Pada tanggal yang sama, Brook Adams menulis demikian: "Pergi memancing dengan ayahku—sungguh hari yang paling indah di hidupku!” Ketika pergi memancing dengan anaknya, sang ayah merasa bahwa ia sedang membuang-buang waktunya. Padahal, si anak justru merasa bahwa itulah saat paling berharga baginya.

2. Lebih banyak menepati janji, bukan sekadar mengumbar janji
Orang dewasa cenderung mudah berjanji, tetapi bisa mudah juga melupakannya—tidak menepatinya. Anak-anak dianggap sebagai pribadi yang tidak mengingat-ingat janji. Padahal kenyataannya tidak demikian. Anak-anak justru sangat memperhatikan sebuah janji yang diberikan orangtuanya dan menanti-nanti janji itu ditepati. Itu sebabnya lebih baik orangtua tidak berjanji bila belum tentu bisa menepati. Akan tetapi sekali berjanji, misalnya akan mengajak berenang apabila ulangan umum selesai, maka janji itu harus dibayar. Bukankah janji adalah utang?

3. Lebih banyak mendengar daripada buru-buru menghakimi atau bertengkar
Kerap terjadi, ketika masalah muncul, maka orangtua menjadi suara yang paling dominan untuk bicara. Mencoba menyelesaikan masalah anak, walau kadang belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, penghakiman yang tidak benar, justru bisa melukai hati. Maka, ada baiknya kita mencoba menahan diri, dan mendengar dulu apa yang dikatakan anak-anak. Ini justru melatih anak untuk berani berkata benar, dan berani bersikap benar ketika masalah terjadi.

4. Lebih banyak melihat kelebihan, daripada kekurangan anak
Merasakan adanya duri di tengah rumpun mawar memang terasa lebih mudah daripada melihat si mawar cantik di tengah rumpun itu. Melihat kelemahan dan keburukan anak sering juga terasa lebih mudah daripada melihat dan mensyukuri kelebihan anak-anak kita. Ubahlah kacamata ”negatif” kita dengan kacamata ”positif” yang menolong kita untuk lebih banyak menghargai anak kita karena kelebihan-kelebihannya—yang ketika semakin kita hargai, maka kelebihan itu semakin berkembang. Daripada menyoroti kelemahannya terus, hingga kelebihannya pun malah ikut terkikis hilang.

5. Lebih banyak memberi teladan, daripada menuntut
Anak-anak serupa dengan semen basah. Apa saja yang ”jatuh” di atasnya, akan meninggalkan kesan yang ”tercetak” di sana. Apa saja yang dilihat dan didengarnya setiap hari dari perbuatan dan perkataan kita sebagai orangtua, itulah yang akan ”mencetak” kepribadian dan cara hidupnya. Taruhkan banyak kesan positif di hidupnya. Kondisi seperti apa yang Anda ingin ada dalam hidup anak Anda, itulah yang harus Anda hidupi dan tularkan kepadanya. Kita tak dapat menuntut sebuah tanaman ”berbuah baik”, bila kita tak menabur dulu ”benih yang baik” itu.

6. Lebih banyak minta maaf dan memaafkan
Banyak konflik tak terhindari dalam keluarga. Bahkan termasuk dengan anak-anak. Akan tetapi, konflik sebesar apa pun sesungguhnya akan terselesaikan bila ada satu pihak yang mulai mengalah dan meminta maaf. Bila pun anak-anak yang salah, kerendahan hati orangtua untuk meminta maaf lebih dulu, akan menolong anak untuk melihat masalah dengan lebih jernih. Masalah pun lebih cepat selesai. Apalagi kalau anak kemudian menyadari kesalahannya, biarlah orangtua cepat untuk memaafkan sehingga anak pun mengerti bahwa orangtuanya sungguh mengasihinya.

7. Lebih banyak memercayai, daripada menyangsikan
Ketika anak-anak kita minta belajar bertanggung jawab, maka ia perlu latihan untuk bisa melakukannya. Jika kita memintanya belajar membawa gelas kaca, mungkin kita perlu merelakan satu-dua gelas pecah sebelum ia bisa melakukannya dengan baik. Jangan terus menyangsikan apakah anak bisa melakukan sesuatu, sehingga kita terus melakukan tugas itu untuknya. Maka, ia takkan pernah bisa melakukannya. Ini bukan saja tentang membawa gelas. Namun tentang mengambil keputusan, tentang kemandirian, tentang pengambilan tanggung jawab.

8. Lebih banyak menemukan talenta anak, daripada memaksakan keinginan orangtua
Jadilah orangtua yang lebih baik dengan lebih banyak melihat talenta dan karunia khusus yang dititipkan Tuhan dalam diri anak-anak kita. Lalu membantu dan mendukungnya mengembangkan talenta tersebut secara maksimal. Bahkan bila bakat dan kemampuannya sama sekali tidak sama dengan apa yang kita miliki, tidak sama dengan yang kita inginkan. Bila dulu kita bercita-cita ingin jadi penari balet, tetapi anak perempuan kita cenderung ”tomboy”, maka memaksanya menari balet hanya memancing masalah. Bahkan membuat kita tak dapat melihat kelebihannya di bidang lain.

9. Lebih banyak mematikan TV, agar dapat berbicara dari hati ke hati
Televisi kerap kali mencuri waktu kita bersama keluarga. Banyaknya stasiun TV dan program menarik yang ada di TV membuat banyak keluarga—sadar atau tak sadar—terus menerus menyalakan TV di rumah. Bahkan, banyak keluarga telah menjadikan TV sebagai ”pengasuh anak”, yang sanggup membuat anak tenang selama berjam-jam. Padahal, segala sesuatu yang hanya ”ditonton” sama sekali tak membuat otak anak menjadi aktif, justru sebaliknya, menjadi pasif. Cobalah untuk mematikan TV, dan lihatlah bahwa tiba-tiba saja kita memiliki waktu untuk saling mendengar dan saling berkomunikasi. Lihatlah bahwa anak-anak dapat melakukan lebih banyak hal lain yang lebih berguna dan mengaktifkan otaknya bekerja. Misalnya saja, membaca buku.

10. Lebih banyak memeluk dan menunjukkan kasih kepada anak-anak
Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk orangtuanya, akan tumbuh sehat. Mereka cenderung merasa nyaman dan lebih percaya diri. Bahkan, janin yang masih di kandungan pun sangat menyukai sentuhan kasih orangtuanya. Ia cenderung mengalami pertumbuhan yang bagus. Dan kelak, tumbuh menjadi seorang penyayang. Maka, daripada lebih banyak menuding anak dan mematikan kepribadiannya, mari lebih banyak memeluk dan memberi kehangatan kasih bagi anak-anak kita. Rasakan bahwa mereka adalah karunia tak ternilai dari Yesus, yang mempercayai kita untuk mengasihi mereka.

11. Lebih banyak mendampingi anak untuk bertumbuh secara rohani
Yang terakhir, tetapi justru yang terpenting, Tuhan memercayai kita menjadi orangtua agar kita mendampingi anak untuk mengenal, mempercayai, dan mengasihi Yesus. Maka, mari berkomitmen untuk mengajarinya berdoa. Mengajarinya membaca Alkitab. Membimbingnya menaati firman Allah. Menuntunnya untuk mengerti karya Kristus bagi hidupnya. Mengajarnya untuk mengandalkan Tuhan sebagai Pribadi yang selalu dekat di hatinya. Mengajarinya berkata, bertindak, berpikir, sebagaimana Yesus inginkan. Tentu hal-hal ini meminta waktu, energi, dan pikiran kita. Namun, inilah peran terbesar yang dapat kita berikan sebagai orangtua. Bahwa urusan kita sebagai orangtua tak berakhir di dunia yang fana ini saja, tetapi perlu dipertanggungjawabkan hingga di kekekalan.

Selamat membuat resolusi tahun baru untuk menjadi orangtua yang lebih baik—dengan pertolongan Tuhan dan kasih terbaik kita bagi anak-anak.

Disadur dari : gloria

Kamis, 13 Januari 2011

Mengubah beban jadi sayap



Yesaya 40:31

“..tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13; Matius 13; Kejadian 25-26

Ada sebuah dongeng tentang bagaimana awalnya burung memiliki sayap. Mereka awalnya diciptakan tanpa sayap. Kemudian Tuhan membuat sayap dan berkata pada mereka, “Ayo, ambillah beban ini dan tanggunglah.”

Burung-burung itu memiliki bulu dan suara yang indah; mereka bisa menyanyi, dan bulu mereka berkilau tertimpa sinar matahari, tetapi mereka tidak dapat melayang di udara. Mereka awalnya ragu-ragu saat diperintahkan untuk mengambil beban yang diberikan pada mereka, namun mereka mentaati Tuhan dan menaruh beban itu di bahu mereka.

Untuk beberapa saat beban itu terasa berat dan sulit untuk ditanggung, tetapi kemudian, mereka bisa dengan mudah membawanya, mereka melipatnya di dekat hati mereka, lalu sayap itu dengan cepat menyatu dengan tubuh mereka, dan dalam waktu singkat, para burung itu mengetahui cara menggunakan sayap itu, dan mereka dibawa sayap itu terbang di udara – beban itu kini telah menjadi sayap mereka.

Ini hanyalah sebuah perumpamaan. Kita adalah burung-burung bersayap itu, dan kita diberi tugas untuk mengepakkan sayap rohani kita sehingga kita bisa terbang. Kita mungkin melihat beban itu berat, dan berusaha menyingkirkannya, tetapi jika kita mau menanggungnya dan menaruhnya di dekat hati kita, beban itu akan menjadi sayap yang akan membawa kita melambung tinggi di hadapan Tuhan.

Tidak ada beban yang jika kita dengan senang hati menanggungnya dengan kasih dalam hati kita, tidak akan menjadi berkat dalam hidup kita. Ingatlah bahwa Yesus pernah berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:29-30). (Ny. Charles Cowman/Stream in the Desert)

Pikullah kuk yang Tuhan beri, karena beban itu ringan dan membuat Anda bertumbuh menjadi semakin kuat.