Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

Rumah dengan Jendela Emas

Ada seorang gadis kecil hidup di sebuah rumah yang sederhana. Seringkali ia merasa menyesal dilahirkan di keluarga miskin seperti itu, apa lagi ketika ia melihat ke seberang lembah dimana terdapat sebuah rumah besar di bukit dengan jendela yang terbuat dari emas berkilauan tertimpa sinar matahari. Gadis kecil itu membayangkan bagaimana indahnya jika ia dibesarkan di rumah dengan jendela-jendela emas itu, dan bukannya di rumah kecil seperti ia tinggali saat ini.

Sekalipun ia mencintai ke dua orangtuanya, dia tidak pernah bisa menghapus keinginan untuk bisa tinggal di rumah besar dengan jendela emas itu. Mimpi itu terus ia simpan hingga ia bertumbuh besar.

Suatu hari ketika ia telah cukup besar dan memiliki ketrampilan yang cukup untuk keluar dari pekarangan rumahnya, dia meminta ijin pada ibunya untuk bisa bersepeda di luar pagar rumahnya dan turun menuju lembah. Setelah memohon-mohon pada sang ibu, akhirnya gadis itu diijinkan asalkan tidak pergi terlalu jauh dari rumah.

Hari itu adalah hari yang cerah dan indah, serta gadis itu tahu pasti kemana tujuannya, dia mengarahkan pandangannya kerumah besar dengan jendela-jendela emas itu. Namun setelah bersepeda cukup jauh dan menaiki bukit di mana rumah itu berada, ia sangat kecewa. Setelah dilihatnya dari dekat, ternyata rumah tersebut tampak tidak terawat dan jendelanya pun tidak terbuat dari emas, bahkan terlihat kotor. Rumah itu tidak tampak seperti yang ia lihat selama ini dari jauh, hanya sebuah rumah yang tidak berpenghuni dan tidak terawatt.

Dengan sedih ia akhirnya memutuskan pulang. Ia memutar sepedanya dan beranjak untuk kembali ke rumahnya. Saat ia mengangkat wajahnya, gadis itu tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Dari sisi bukit dimana ia berada saat ini, ia bisa melihat rumah mungilnya, dan jendela itu.. jendela dimana ia biasa merenung terlihat berkilau bagai emas ditimpa sinar matahari sore.

Gadis kecil itu akhirnya sadar bahwa selama ini ia hidup di sebuah rumah dengan jendela emas seperti yang diimpikannya selama ini. Rumah itu penuh dengan kehangatan dan cinta dari orangtuanya. Semua yang ia impikan sebenarnya ada di dekatnya, namun karena ia terfokus pada rumah lain, ia tidak pernah melihatnya.

Apa yang dialami oleh gadis kecil dalam cerita diatas seringkali kita alami. Kita sering memandang rumput orang lain lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita sendiri. Hasilnya, kita tidak bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Jadi, mulai saat ini ayo kita ubah cara kita memandang, lihatlah bahwa setiap anugrah Tuhan dalam hidup kita adalah sesuatu yang berharga.

sumber : jawaban

Jumat, 04 Februari 2011

11 Resolusi Baru bagi orang tua ditahun 2011




Saya selalu bersyukur ketika menyadari bahwa Tuhan menciptakan pagi hadir setiap hari. Sebab pagi mengawali hidup dengan sesuatu yang baru. Bahkan ketika malam dilalui dengan berat, pagi selalu menyediakan harapan baru. Demikian pula tahun baru. Segala kepenatan dan perjuangan keras di tahun yang lalu boleh dijalani dan dilewati. Namun tahun yang baru memberi pengharapan bahwa hari depan akan dijalani dengan jauh lebih baik. Sebab itu, wajar bila seseorang kemudian memiliki resolusi di tahun baru—sebuah pembaruan komitmen untuk melakukan hal yang lebih baik di tahun yang baru, dengan energi dan semangat baru yang membara.

Khususnya sebagai orangtua, kita juga dapat menyusun resolusi tahun baru yang positif. Yakni, menjadi orangtua yang lebih baik, khususnya bagi anak-anak titipan Tuhan, di tahun 2011 ini. Apa sajakah kiranya resolusi yang dapat diambil orangtua? Berikut adalah beberapa resolusi yang dapat menjadi komitmen Anda dan saya.

1. Lebih banyak menyediakan waktu bagi anak-anak
Mari berkomitmen dan mengusahakan untuk selalu memiliki waktu untuk bersama anak, setiap hari. Bahkan untuk bermain bersamanya, tak hanya “mencarikan mainan” atau “menemaninya” bermain di arena permainan di mal atau pusat hiburan. Sungguh-sungguh ada dan memberi perhatian bagi anak-anak. Charles Francis Adams, seorang diplomat dan tokoh politik abad 19, biasa menulis buku harian. Suatu hari ia menulis demikian: “Pergi memancing dengan anak laki-lakiku—satu hari terbuang begitu saja.” Putranya, Brook Adams, juga biasa menulis buku harian, yang masih ada hingga sekarang. Pada tanggal yang sama, Brook Adams menulis demikian: "Pergi memancing dengan ayahku—sungguh hari yang paling indah di hidupku!” Ketika pergi memancing dengan anaknya, sang ayah merasa bahwa ia sedang membuang-buang waktunya. Padahal, si anak justru merasa bahwa itulah saat paling berharga baginya.

2. Lebih banyak menepati janji, bukan sekadar mengumbar janji
Orang dewasa cenderung mudah berjanji, tetapi bisa mudah juga melupakannya—tidak menepatinya. Anak-anak dianggap sebagai pribadi yang tidak mengingat-ingat janji. Padahal kenyataannya tidak demikian. Anak-anak justru sangat memperhatikan sebuah janji yang diberikan orangtuanya dan menanti-nanti janji itu ditepati. Itu sebabnya lebih baik orangtua tidak berjanji bila belum tentu bisa menepati. Akan tetapi sekali berjanji, misalnya akan mengajak berenang apabila ulangan umum selesai, maka janji itu harus dibayar. Bukankah janji adalah utang?

3. Lebih banyak mendengar daripada buru-buru menghakimi atau bertengkar
Kerap terjadi, ketika masalah muncul, maka orangtua menjadi suara yang paling dominan untuk bicara. Mencoba menyelesaikan masalah anak, walau kadang belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, penghakiman yang tidak benar, justru bisa melukai hati. Maka, ada baiknya kita mencoba menahan diri, dan mendengar dulu apa yang dikatakan anak-anak. Ini justru melatih anak untuk berani berkata benar, dan berani bersikap benar ketika masalah terjadi.

4. Lebih banyak melihat kelebihan, daripada kekurangan anak
Merasakan adanya duri di tengah rumpun mawar memang terasa lebih mudah daripada melihat si mawar cantik di tengah rumpun itu. Melihat kelemahan dan keburukan anak sering juga terasa lebih mudah daripada melihat dan mensyukuri kelebihan anak-anak kita. Ubahlah kacamata ”negatif” kita dengan kacamata ”positif” yang menolong kita untuk lebih banyak menghargai anak kita karena kelebihan-kelebihannya—yang ketika semakin kita hargai, maka kelebihan itu semakin berkembang. Daripada menyoroti kelemahannya terus, hingga kelebihannya pun malah ikut terkikis hilang.

5. Lebih banyak memberi teladan, daripada menuntut
Anak-anak serupa dengan semen basah. Apa saja yang ”jatuh” di atasnya, akan meninggalkan kesan yang ”tercetak” di sana. Apa saja yang dilihat dan didengarnya setiap hari dari perbuatan dan perkataan kita sebagai orangtua, itulah yang akan ”mencetak” kepribadian dan cara hidupnya. Taruhkan banyak kesan positif di hidupnya. Kondisi seperti apa yang Anda ingin ada dalam hidup anak Anda, itulah yang harus Anda hidupi dan tularkan kepadanya. Kita tak dapat menuntut sebuah tanaman ”berbuah baik”, bila kita tak menabur dulu ”benih yang baik” itu.

6. Lebih banyak minta maaf dan memaafkan
Banyak konflik tak terhindari dalam keluarga. Bahkan termasuk dengan anak-anak. Akan tetapi, konflik sebesar apa pun sesungguhnya akan terselesaikan bila ada satu pihak yang mulai mengalah dan meminta maaf. Bila pun anak-anak yang salah, kerendahan hati orangtua untuk meminta maaf lebih dulu, akan menolong anak untuk melihat masalah dengan lebih jernih. Masalah pun lebih cepat selesai. Apalagi kalau anak kemudian menyadari kesalahannya, biarlah orangtua cepat untuk memaafkan sehingga anak pun mengerti bahwa orangtuanya sungguh mengasihinya.

7. Lebih banyak memercayai, daripada menyangsikan
Ketika anak-anak kita minta belajar bertanggung jawab, maka ia perlu latihan untuk bisa melakukannya. Jika kita memintanya belajar membawa gelas kaca, mungkin kita perlu merelakan satu-dua gelas pecah sebelum ia bisa melakukannya dengan baik. Jangan terus menyangsikan apakah anak bisa melakukan sesuatu, sehingga kita terus melakukan tugas itu untuknya. Maka, ia takkan pernah bisa melakukannya. Ini bukan saja tentang membawa gelas. Namun tentang mengambil keputusan, tentang kemandirian, tentang pengambilan tanggung jawab.

8. Lebih banyak menemukan talenta anak, daripada memaksakan keinginan orangtua
Jadilah orangtua yang lebih baik dengan lebih banyak melihat talenta dan karunia khusus yang dititipkan Tuhan dalam diri anak-anak kita. Lalu membantu dan mendukungnya mengembangkan talenta tersebut secara maksimal. Bahkan bila bakat dan kemampuannya sama sekali tidak sama dengan apa yang kita miliki, tidak sama dengan yang kita inginkan. Bila dulu kita bercita-cita ingin jadi penari balet, tetapi anak perempuan kita cenderung ”tomboy”, maka memaksanya menari balet hanya memancing masalah. Bahkan membuat kita tak dapat melihat kelebihannya di bidang lain.

9. Lebih banyak mematikan TV, agar dapat berbicara dari hati ke hati
Televisi kerap kali mencuri waktu kita bersama keluarga. Banyaknya stasiun TV dan program menarik yang ada di TV membuat banyak keluarga—sadar atau tak sadar—terus menerus menyalakan TV di rumah. Bahkan, banyak keluarga telah menjadikan TV sebagai ”pengasuh anak”, yang sanggup membuat anak tenang selama berjam-jam. Padahal, segala sesuatu yang hanya ”ditonton” sama sekali tak membuat otak anak menjadi aktif, justru sebaliknya, menjadi pasif. Cobalah untuk mematikan TV, dan lihatlah bahwa tiba-tiba saja kita memiliki waktu untuk saling mendengar dan saling berkomunikasi. Lihatlah bahwa anak-anak dapat melakukan lebih banyak hal lain yang lebih berguna dan mengaktifkan otaknya bekerja. Misalnya saja, membaca buku.

10. Lebih banyak memeluk dan menunjukkan kasih kepada anak-anak
Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk orangtuanya, akan tumbuh sehat. Mereka cenderung merasa nyaman dan lebih percaya diri. Bahkan, janin yang masih di kandungan pun sangat menyukai sentuhan kasih orangtuanya. Ia cenderung mengalami pertumbuhan yang bagus. Dan kelak, tumbuh menjadi seorang penyayang. Maka, daripada lebih banyak menuding anak dan mematikan kepribadiannya, mari lebih banyak memeluk dan memberi kehangatan kasih bagi anak-anak kita. Rasakan bahwa mereka adalah karunia tak ternilai dari Yesus, yang mempercayai kita untuk mengasihi mereka.

11. Lebih banyak mendampingi anak untuk bertumbuh secara rohani
Yang terakhir, tetapi justru yang terpenting, Tuhan memercayai kita menjadi orangtua agar kita mendampingi anak untuk mengenal, mempercayai, dan mengasihi Yesus. Maka, mari berkomitmen untuk mengajarinya berdoa. Mengajarinya membaca Alkitab. Membimbingnya menaati firman Allah. Menuntunnya untuk mengerti karya Kristus bagi hidupnya. Mengajarnya untuk mengandalkan Tuhan sebagai Pribadi yang selalu dekat di hatinya. Mengajarinya berkata, bertindak, berpikir, sebagaimana Yesus inginkan. Tentu hal-hal ini meminta waktu, energi, dan pikiran kita. Namun, inilah peran terbesar yang dapat kita berikan sebagai orangtua. Bahwa urusan kita sebagai orangtua tak berakhir di dunia yang fana ini saja, tetapi perlu dipertanggungjawabkan hingga di kekekalan.

Selamat membuat resolusi tahun baru untuk menjadi orangtua yang lebih baik—dengan pertolongan Tuhan dan kasih terbaik kita bagi anak-anak.

Disadur dari : gloria

Kamis, 13 Januari 2011

Mengubah beban jadi sayap



Yesaya 40:31

“..tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13; Matius 13; Kejadian 25-26

Ada sebuah dongeng tentang bagaimana awalnya burung memiliki sayap. Mereka awalnya diciptakan tanpa sayap. Kemudian Tuhan membuat sayap dan berkata pada mereka, “Ayo, ambillah beban ini dan tanggunglah.”

Burung-burung itu memiliki bulu dan suara yang indah; mereka bisa menyanyi, dan bulu mereka berkilau tertimpa sinar matahari, tetapi mereka tidak dapat melayang di udara. Mereka awalnya ragu-ragu saat diperintahkan untuk mengambil beban yang diberikan pada mereka, namun mereka mentaati Tuhan dan menaruh beban itu di bahu mereka.

Untuk beberapa saat beban itu terasa berat dan sulit untuk ditanggung, tetapi kemudian, mereka bisa dengan mudah membawanya, mereka melipatnya di dekat hati mereka, lalu sayap itu dengan cepat menyatu dengan tubuh mereka, dan dalam waktu singkat, para burung itu mengetahui cara menggunakan sayap itu, dan mereka dibawa sayap itu terbang di udara – beban itu kini telah menjadi sayap mereka.

Ini hanyalah sebuah perumpamaan. Kita adalah burung-burung bersayap itu, dan kita diberi tugas untuk mengepakkan sayap rohani kita sehingga kita bisa terbang. Kita mungkin melihat beban itu berat, dan berusaha menyingkirkannya, tetapi jika kita mau menanggungnya dan menaruhnya di dekat hati kita, beban itu akan menjadi sayap yang akan membawa kita melambung tinggi di hadapan Tuhan.

Tidak ada beban yang jika kita dengan senang hati menanggungnya dengan kasih dalam hati kita, tidak akan menjadi berkat dalam hidup kita. Ingatlah bahwa Yesus pernah berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:29-30). (Ny. Charles Cowman/Stream in the Desert)

Pikullah kuk yang Tuhan beri, karena beban itu ringan dan membuat Anda bertumbuh menjadi semakin kuat.

Minggu, 05 Desember 2010

Jehovah Jireh

Persekutuan membawa berkat



Begitu bangun pagi, Yanto Kambu (26) sudah harus bersiap-siap kerja. Jarak dari kos di kawasan Pasar Minggu ke kantornya di sebuah perusahaan gas dan minyak yang berkantor pusat di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, memang hanya sekitar 300 meter. Namun Yanto sudah harus berada di kantor sebelum seluruh aktifitas kantor dimulai tepat pukul 7 pagi.

Ia berjalan kaki ke kantor. Sesampainya di kantor, Yanto tetap harus rapi dan wangi. Maklumlah, sebagai seorang Exploration Geoscientist di kantornya, Yanto perlu menyesuaikan diri. penampilan harus selalu diperhatikan. Apalagi ia harus berinteraksi dengan berbagai orang dari berbagai latar belakang. Ini penting, meski ia tidak bekerja di lapangan seperti rekan-rekannya yang mengebor sumur minyak atau gas atau melakukan kerja teknis lapangan sejenis itu. Kerjanya di belakang meja.

Setiap pagi, sebelum melakukan pekerjaan utamanya, Yanto harus mengecek jadwal kegiatan hariannya terlebih dulu. Jika hari itu ada meeting maka ia harus membuat laporan berupa slide-slide untuk presentasi. Jika tidak, Yanto akan lebih banyak bergelut dengan komputer, data, dan browsing internet untuk meramu informasi geologi dan geofisika menjadi database. Datanya berasal dari temanteman yang melakukan observasi ke lokasi pengeboran (drilling).

Selaku seorang ‘ilmuwan di balik meja’ lulusan Teknik Geologi, Universitas Padjajaran Bandung, lajang kelahiran Fak-Fak Papua inilah yang akan menelaah dan mengelola data hasil observasi ditambah hasil browsing dan menjadikannya database serta informasi perusahaan untuk mengetahui daerah potensial mana saja yang mengandung minyak dan gas yang bagus.

Kerja di balik meja, apa sih tantangannya? Walau masuk jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore, tetap saja susah mengatur waktu untuk mengelola database besar untuk proyek-proyek yang berbeda lokasi. Kadang dua proyek hanya dikerjakan oleh satu orang sepertinya, sehingga pekerjaannya membutuhkan fokus tinggi. Mirip wartawan yang dikejar deadline cetak, dalam tempo singkat harus membuat data akurat untuk meminimalisir kesalahan di lapangan. Padahal kadang dalam waktu bersamaan, proyek berbeda meminta data yang berbeda pula.

Tantangan lain bekerja di perusahaan asing adalah kerap menemui rekan atau leader yang berbeda budaya. “Ada teman bule yang pintar tetapi terlalu banyak omong. Sebagai teman bertukar ilmu cukup menyenangkan, tetapi kalau terlalu dicerewetin, sebel juga sih,” tuturnya.

Baru 15 bulan bekerja di sana, jemaat GPI Jalan Suci Jakarta ini sudah dapat beradaptasi dengan baik. Ini pun berkat adanya persekutuan doa dengan teman-teman satu departemen yang beragama nasrani. Setiap sore setelah usai jam kantor, 5-7 orang berkumpul untuk sharing. “Sangat bermanfaat. Saya merasakan betul dampaknya. Khususnya dalam pekerjaan,” katanya.

Tadinya sharing bersama ini dilakukan setiap pagi sebelum kerja. Berhubung waktunya tak bisa lebih bebas karena harus on time bekerja ditambah kesibukan masing-masing anggota yang berbeda, maka diganti menjadi sore hari. Tiap sore sebelum pulang, Yanto harus membuat jadwal apa yang akan dilakukannya keesokan paginya. Kerja yang rapi.

Pernah dalam waktu enam bulan, departemennya berganti kepemimpinan. Format kerja dari pemimpin sebelumnya diganti oleh pemimpin baru. Mengikuti ritme kerja pemimpin baru dengan proyek-proyek berbeda yang berjalan bersamaan adalah tantangan berat. Berkat sharing diantara personil kelompok kecil ini, bebannya pun terangkat. Yanto jauh lebih lega dan siap menghadapi tantangan baru.

Sumber: Renungan Pagi, November 2010

Senin, 07 Desember 2009

Kepahitan Vs Pengampunan


Setiap manusia di bawah kolong langit pastilah mengalami kepahitan. Yang membedakanya adalah keputusan kita atas kepahitan itu. Apakah kita hidup dalam kepahitan sepanjang umur kita? Atau kita segera melepaskan beban kepahitan itu dalam hidup kita.

Ada orang yang ditolak sejak kandungan, ada orang yang disakiti oleh perkataan orang lain, ada yang bercerai, ada yang merasa tidak dianggap kehadirannya, dan masih banyak lagi.

Hidup dalam dunia ini memang dipenuhi masalah silih berganti. Beruntunglah kita bahwa hidup di bumi ini hanya sementara saja. Namun bukan berarti kita hidup dengan kehendak diri kita, tapi jadikan hidup saat ini untuk melatih diri kita sebelum kekekalan.

Yohanes 15:19b, Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itu dunia membenci kamu. Ambillah keputusan yang benar dalam mengatasi kepahitan.


Ada sebuah ilustrasi dari sebuah apel. Apel yang baik adalah apel yang kulitnya bersih, segar, ranum. Itulah tampilan diri kita yang dilihat oleh orang lain. Orang lain hanya mampu melihat penampilan luar kita saja.

Namun ketika apel itu dipotong, kelihatanlah noda busuknya yang kecoklat-coklatan. Noda busuk itu adalah kepahitan dalam diri kita. Dan tentunya tidak baik dimakan, selain rasanya tidak enak, berbau atau mungkin berulat. Bagaimana caranya agar noda busuk itu tidak mencemari sisa apel tadi?

Dengan memotongnya dan membuang noda busuk tadi. Begitu juga dengan kepahitan. Sebelum virus kepahitan itu terus berakar ke dalam atau melebar pada wilayah hidup kita yang lain, segeralah memangkasnya. Caranya?

Lepaskan pengampunan atas masalah yang terjadi pada hidup kita. Berikan pengampunan pada orang yang telah menyakiti hidup kita. Matius 6:12, Dan ampunilah kami akan kesalahan kami,seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.

Ayat di atas adalah sepenggal Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Itu berarti Yesus menghendaki kita untuk segera memberikan pengampunan seperti Ia telah mengampuni kita terlebih dahulu. Dan inilah obat atas kepahitan itu yaitu mengampuni.

Minggu, 25 Oktober 2009

Bagaimana aku tahu bahwa aku telah menemukan orang yang tepat?



Saat Anda jatuh cinta kepada seorang pria, bagaimana Anda bisa tahu apakah pria itu adalah orang yang tepat? Berikut lima pertanyaan yang perlu Anda tanyakan pada diri Anda sendiri sebelum Anda berbunga-bunga pada orang yang salah.

1.Nilai-nilai apa yang dia miliki?
Tak seorang pun ingin berpacaran dengan orang yang sama, dan sering kali, yang saling tertarik adalah yang berlawanan. Namun, perbedaan-perbedaan yang menyenangkan dalam kepribadian tidak sama dengan perbedaan kepercayaan dan nilai.
Saat perbedaan itu sampai pada nilai-nilai dasar, apa yang pria ini percayai? Apakah Anda mengecam aborsi, sedangkan dia tidak? Ini adalah perbedaan yang sangat besar. Apakah Anda banyak terlibat dalam gereja, tetapi dia ke gereja saja malu? Sekali lagi, ini adalah perbedaan yang besar.

Seberapa dalam dia menghargai kemurnian seksual? Bagaimana dengan film dan musik? Apakah Anda memiliki kepercayaan yang sama tentang pengaruh media terhadap kita?
Memiliki nilai-nilai yang sama adalah salah satu cara terkuat untuk menjaga ikatan dengan seseorang yang Anda sayangi. Bila nilai-nilai yang dianut oleh pria yang Anda sayangi bertentangan dengan nilai- nilai yang Anda anut, itu berarti masalah, baik sekarang maupun yang akan datang.

2.Bagaimana dia memperlakukan ibunya?
Semua pria bisa membuat kesan yang baik bila dia mau mencobanya, tetapi bagaimana bila tidak harus melakukannya? Sering kali, pribadi yang sebenarnya akan muncul saat dia bersama keluarganya. Dan bila seorang pria memperlakukan ibunya dengan hormat, kemungkinan dia juga akan melakukan hal yang sama kepada kekasihnya.

Apakah dia seorang pria yang sopan? Apakah dia menawarkan untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Apakah dia membukakan pintu untuk ibunya dan memerlakukannya sebagai seorang wanita? Saat dia berbicara dengan ibunya, apakah ada kelembutan? Ataukah dia mengasarinya, malu karena ibunya, atau bahkan tampak mengacuhkannya?
Bagaimana seorang pria memperlakukan orang lain secara umum adalah hal yang penting, tetapi bagaimana dia memperlakukan ibunya bisa memberi Anda petunjuk tentang apa yang akan Anda alami bila Anda menjalin hubungan yang serius dengannya.

3.Bagaimana dia memegang tanggung jawab?
Tidak seorangpun mau menjalin hubungan dengan orang yang tidak bertanggung jawab, dan Anda seharusnya memastikan bahwa orang yang berpacaran dengan Anda menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar sebelum Anda berkomitmen untuk melangkah ke tingkat yang lebih serius.
Mari kita lihat kisah seorang wanita yang pacarnya tidak bertanggung jawab.
Bila Anda menginginkan seseorang yang akan terus dapat dipercaya, lihatlah baik-baik beberapa pertanyaan berikut ini.

Apakah dia sering datang terlambat? Tepat waktu adalah bagian dari tanggung jawab. Saya tidak berbicara tentang sekali-kali terlambat -- hal itu terjadi pada setiap orang. Tetapi apakah dia terus mengacaukan jadwalnya sendiri dan datang terlambat?
Apakah dia melakukan apa yang dia katakan? Apakah dia menyelesaikan proyek-proyek yang dikerjakannya? Apakah dia selalu mencari cara yang mudah untuk keluar dari situasi yang sulit? Apakah dia mudah bosan dan beralih ke hal-hal lain?
Hal-hal ini akhirnya akan memengaruhi hubungannya dengan Anda.

4.Apa yang orang lain katakan tentang dia?
Pendapat orang lain tentang orang yang Anda sukai adalah penting, dan Anda seharusnya memerhatikan apa yang Anda dengar. Saya tidak meminta Anda untuk menyelidiki pendapat umum tentang dia, dan kabar angin selalu salah. Tetapi bila orang dewasa yang dapat dipercaya pun mengatakan hal-hal negatif tentang dia -- atau bahkan menanyakan beberapa pertanyaan penting -- itu artinya Anda harus berhati-hati.

Pikirkan hal ini: para guru, pemimpin pemuda Anda, dan pelatih biasanya sangat dapat diandalkan. Apakah mereka memiliki perhatian yang besar tentang sifat-sifat dari orang yang Anda sukai? Bila ya, daripada membela diri, tanyakan apakah Anda bisa membuat perjanjian untuk duduk bersama mereka dan mendengarkan apa yang harus mereka katakan.

5.Bagaimana hubungannya dengan Yesus Kristus?
Saya berikan pertanyaan yang paling penting ini di bagian paling akhir. Pertanyaannya adalah: Apakah teman Anda ini punya hubungan dengan Yesus Kristus? Dalam hal ini, apakah dia pernah mengakui diri sebagai orang Kristen? Dan bila ya, apakah tindakannya sesuai dengan ucapan-ucapannya? Apakah Anda bisa melihat bukti dari hubungannya dengan Yesus dalam hidupnya?

Bila seseorang ingin berpacaran dengan Anda, Anda perlu memastikan bahwa dia juga memiliki hubungan yang sama dengan Tuhan seperti Anda. Bila dia tidak memiliki iman yang sama, Anda tidak seharusnya berpikir untuk berkencan dengan dia, biarkan dia merasa sepi secara emosional.

Berikut kisah seorang wanita muda yang harus membuat keputusan.
Selama hampir 4 bulan, Ashley membual tentang keinginannya untuk bisa bersama dengan Brent. Jadi dia sangat gembira saat akhirnya Brent mulai memberikan perhatian kepadanya.
"Apa kamu mau piknik hari Minggu pagi besok?" akhirnya Brent bertanya kepadanya. "Aku tahu tempat yang menyenangkan."
"Hari minggu aku biasanya ke gereja, Brent" kata Ashley.
"Apakah kamu tidak bisa sekali-kali melewatkannya?"
Ashley bisa saja melewatkan kebaktian di gereja dan pergi bersama Brent, atau dia tetap pada pendiriannya dan pergi ke gereja seperti biasanya. Atau dia bisa saja menyarankan kepada Brent supaya datang ke gereja bersamanya kemudian piknik bersamanya.

Tetapi masalah yang sebenarnya adalah bukan tentang apakah Brent akan ke gereja dengan Ashley. Banyak pria yang mau pergi ke gereja saat ia suka dengan seseorang. Hal yang paling penting adalah di mana posisinya terhadap Yesus Kristus. Bila orang yang Anda sukai tidak mengenal Tuhan, maka apa yang seharusnya Anda diskusikan sebagai bentuk yang terdalam dari kesamaan bahkan bukanlah bagian dari perkataannya.
Bila Anda berjuang untuk bisa menjadi seperti yang Allah inginkan, Anda akan menghadapi pertempuran yang sulit dengan mengencani orang yang belum percaya Yesus atau seseorang yang imannya tidak seserius Anda. Jangan berkompromi. Tunggulah seorang pria yang memiliki relasi yang sejati dengan Yesus.

Kesimpulan
Jadi, apakah Anda merasa sudah menemukan orang yang tepat bagi Anda? Anda menyukai segala hal tentang dia -- bahkan tawanya yang bodoh! Sekarang, Anda sedang bersenang-senang untuk mengenal dia. Mungkin tampaknya tidak ada yang salah dengan hubungan Anda ini.

Tetapi sebelum Anda membiarkan diri Anda sendiri menjadi terikat sangat emosional, mundurlah, lihatlah baik-baik pria itu, dan secara jujur tanyakan pada diri Anda sendiri pertanyaan-pertanyaan di atas. Mintalah hikmat dari Tuhan untuk bisa melihat hal-hal yang ada dalam diri teman Anda yang tidak ingin Anda lihat.

Jangan berkompromi dengan hal-hal tersebut juga. Pastikan bahwa pria ini memiliki tujuan yang benar dalam berkencan. Jangan membuat komitmen sampai Anda tahu pasti apakah dia benar-benar pria yang Anda inginkan.
Allah mengasihi Anda, dan dia ingin Anda mendapatkan yang terbaik.

sumber : how do I know if I've found the right one?

Sabtu, 17 Oktober 2009

Langkah Berikutnya


Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Mazmur 119:105

Dalam ayat ini Daud merenungkan cara berjalan kita yang seharusnya di tengah-tengah dunia ini. Ia menyoroti dua hal utama: kaki yang kita pakai untuk melangkah, dan jalan yang kita lalui. Ia menjamin bahwa kita tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan apabila kita sepenuhnya percaya dan taat kepada Firman Tuhan.

Akan datang saat-saat ketika dunia di sekitar kita menjadi gelap sama sekali. Pada saat itu pandangan kita ke segala arah akan terbatas sampai beberapa meter saja. Di depan kita mungkin ada masalah-masalah yang belum beres. Mungkin juga ada bahaya yang mengancam kita di balik tikungan. Namun di tengah semua itu kita mendapat suatu jaminan; Jika kita benar-benar mentaati Firman Tuhan dalam menghadapi keadaan apapun juga, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan. Kaki kita tidak akan menapak di tempat yang berbahaya yang dapat membuat kita tersandung dan jatuh sehingga mengalami cedera atau mendapat malapetaka.

Namun jaminan tersebut berlaku untuk satu “daerah” khusus saja; yaitu hanya di tempat kita akan menapakkan kaki kita pada langkah berikutnya. Tuhan tidak berjanji bahwa kita akan bisa melihat jauh ke depan. Apa yang akan terjadi jauh di depan kita mungkin sama sekali tidak bisa kita ketahui , tetapi hal itu tidak perlu membuat kita khawatir. Yang diminta Tuhan dari kita hanyalah agar setiap langkah, kita ayunkan dengan penuh ketaatan kepada Firman Tuhan.

Bahaya yang terbesar bagi kita adalah jika kita berusaha melihat terlalu jauh ke depan menembus kegelapan itu. Karena dengan berbuat demikian kemungkinan kita bisa kurang memperhatikan tempat yang akan kita pijak yang tepat ada di depan kita, yaitu satu-satunya tempat yang disinari Tuhan setiap kali kita akan melangkah.

Tanggapan Iman:
Tuhan, tunjukkanlah padaku dimana aku harus menaruh kakiku sekarang dengan menaati Firman-Mu. Kuserahkan masa depanku ke dalam tangan-Mu

by : Derek Prince