Rabu, 14 Oktober 2009

Seorang Pemulung Menyumbang Pakaian Layak Pakai Bagi Korban Gempa



Jika firman Tuhan menceritakan bagaimana seorang janda miskin memberi dalam kekurangannya, itu juga yang dilakukan oleh Misrini (58 th), seorang pemulung di kota Tanjungpinang, kepulauan Riau. Ia menyumbangkan pakaian layak pakai bagi korban gempa di Sumatra Barat. Perbuatannya ini kontan menarik perhatian wartawan dan petugas posko Kelompok Jurnalis Pencinta Sastra di Tanjungpinang.

Dengan sedikit ragu-ragu, Misrini mendekati para petugas yang sedang menjaga posko dan bertanya, "Bolehkah saya ikut menyumbang? Dulu baju dan celana ini dipakai anak saya. Sekarang dia sudah besar, tapi pakaiannya masih bagus." Niat baik Misrini langsung mendapat sambutan hangat dari para petugas yang kagum kepada ibu beranak satu ini. "Saya tidak punya uang yang cukup untuk disumbangkan, hanya ini yang dapat saya berikan," ujarnya menambahkan.

Misrini adalah satu-satunya pemulung yang memberikan sumbangan untuk korban gempa di Sumatra Barat. Sudah 40 tahun ia menjalani profesi sebagai pemulung di kota Tanjungpinang. Dalam sehari penghasilannya hanya sebesar Rp20.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Misrini menyimpan pakaian layak pakai yang hendak disumbangkannya di dalam kantong plastik merah. Ia juga membawa satu tas pakaian layak pakai yang dititipkan oleh para tetangganya untuk ikut disumbangkan bagi para korban gempa.

Kulitnya bisa saja hitam legam terbakar matahari, tapi hati yang dimilikinya seputih kapas, tulus dan penuh belas kasihan. Ia memberi bukan dalam kelebihan tapi dalam kekurangan dan lahir dari hati yang dipenuhi oleh belas kasihan. Dunia ini butuh Misrini-Misrini lain yang akan membawa perubahan agar dunia ini menjadi lebih baik.

sumber : jawaban .com

Selasa, 06 Oktober 2009

Seperti di penjara



Sewaktu saya tinggal di asrama, ada dua teman saya yang sedang bermasalah, padahal hanya persoalan sepele. Oleh karena tidak cepat di selesaikan akhirnya persoalannya menjadi bertambah-tambah dan panjang. Ternyata persoalan tersebut membawa permusuhan yang tidak mudah di carikan jalan damainya. Masing-masing bersikeras tidak mau mengalah. Akibatnya kedua teman saya menyimpan kepahitan satu dengan yang lain. Jika mereka tergabung di satu team, keduanya tidak mau tegur sapa seolah-olah tidak mengenal satu dengan yang lain dan mereka sering bersikap salah tingkah sendiri.

Kebencian dan kepahitan yang di alami oleh kedua teman saya itu telah membuat mereka hidup dengan tidak bebas. Masalah ini pun mungkin kita pernah mengalami. Jika kita bertemu dengan orang yang tidak kita senangi, maka yang terjadi adalah kita tidak merasa tenang dan tidak bebas. Ketika kita tidak bisa mengampuni seseorang, maka kita telah memasukkan orang tersebut ke dalam penjara; dan ketika kita mengampuni seseorang berarti kita telah membebaskan orang tersebut dari dalam penjara. Siapakah orang tersebut? Tidak lain adalah diri kita sendiri. Jadi jika saat ini saudara masih menyimpan kepahitan, ampunilah dia, karena saudara sedang membebaskan anda sendiri. Tidak ada jalan lain untuk hal ini, kecuali melepaskan pengampunan.

Memang tidak mudah untuk memberikan pengampunan, tetapi firman Tuhan mengajarkan agar kita jangan membenci saudara-saudara kita, Rasul Yohanes berkata, jika kita membenci saudara kita berarti kita adalah seorang pembunuh (I Yoh. 3:15), bahkan TuhanYesus sendiri mengajarkan, kalau kita membenci saudara kita berarti kita telah membunuhnya di dalam hati. Jika kita mengasihi Tuhan berarti kita juga mau melakukan perintah Tuhan. Mengampuni seseorang bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi persoalannya adalah apakah kita mau. Keberanian tidak hanya di butuhkan untuk membela hak kita, tetapi keberanian juga di butuhkan untuk mengampuni. Bagaimana dengan Anda, apakah masih ada kebencian yang berakar di dalam hati Anda? Tidakkah Anda ingin hidup bebas? Ampunilah kepada orang yang telah menoreh luka di hati Anda dan biarkan damai sejahtera Tuhan memenuhi hati Anda.

sumber : sabda.org

Rabu, 30 September 2009

Kesehatan : Lembur



Bagi Anda yang suka bekerja lembur atau shift ada baiknya membaca artikel yang satu ini. Menurut ilmu kesehatan medis, melakukan beraktivitas/bekerja di malam hari dapat mengganggu kesehatan tubuh seseorang.

Salah satu alasannya adalah waktu tidur dari malam hari tidak bisa digantikan menjadi pagi atau siang hari. Demikian ungkap dokter Andreas Prasadja, RPSGT, ahli tidur dari Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Menurut dr Andreas, kemampuan tubuh di malam hari sebenarnya tidaklah sekuat seperti pagi atau siang hari. Hal ini akan berpengaruh kepada analisa dan konsenterasi seseorang yang tidak akan maksimal.

Selain itu, lanjutnya, tidur di malam hari akan membantu bekerjanya hormon-hormon yang di dalam tubuh diantaranya ada hormon melatonin (hormon yang hanya diproduksi saat gelap) dan hormon pertumbuhan yaitu hormone yang sangat berperan dalam proses peremajaan sel. Itu sebabnya jika kualitas tidur tidak baik, orang akan terlihat cepat tua.

Berdasarkan informasi dari International Classification of Sleep Disorder, pekerja shift berisiko lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular dan pencernaan. Bekerja di malam hari juga mengacaukan waktu bersosialisasi yang dapat memengaruhi kesehatan jiwa seseorang.

Untuk mengatasi masalah bagi Anda yang sering kali lembur atau bekerja shift, disarankan agar mengatur waktu tidur dengan baik. Kenalilah tubuh Anda. Kalau tubuh Anda sudah meminta untuk diistirahatkan, lakukanlah. Untuk yang tidak dapat bekerja dengan diselingi tidur, manfaatkan waktu yang Anda sehabis kerja shift untuk beristirahat, tetapi jangan juga berlebihan.

Wah..ternyata banyak sekali resiko yang harus dialami oleh mereka yang bekerja di malam hari. Apakah Anda termasuk dalam orang-orang yang disebut dalam artikel ini? Jika iya, mulai jalankan solusi yang diberikan dalam artikel diatas. Dengan melakukannya berarti Anda menjaga kesehatan tubuh Anda yang berarti juga bahwa Anda menghargai kehidupan yang sudah Tuhan berikan dalam kehidupan Anda.

Jumat, 11 September 2009

Humor: Perpuluhan tergantung Profesi

Tiga orang yang berbeda profesi sedang berdiskusi soal perpuluhan.
Mereka masing-masing mengemukakan alasan mengapa mereka belum membayar perpuluhan.

Akuntan: Saya belum membayar perpuluhan karena belum menerima surat tagihan dari Tuhan.

Pengacara: Kalau saya belum membayar perpuluhan karena belum ada undang-undang yang mengaturnya.

Bankir: Saya sih sudah lama mau membayar perpuluhan, tapi sampai sekarang saya belum tahu nomor rekening Tuhan.
(Sumber:E-Humor)