Sabtu, 17 Oktober 2009

Langkah Berikutnya


Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Mazmur 119:105

Dalam ayat ini Daud merenungkan cara berjalan kita yang seharusnya di tengah-tengah dunia ini. Ia menyoroti dua hal utama: kaki yang kita pakai untuk melangkah, dan jalan yang kita lalui. Ia menjamin bahwa kita tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan apabila kita sepenuhnya percaya dan taat kepada Firman Tuhan.

Akan datang saat-saat ketika dunia di sekitar kita menjadi gelap sama sekali. Pada saat itu pandangan kita ke segala arah akan terbatas sampai beberapa meter saja. Di depan kita mungkin ada masalah-masalah yang belum beres. Mungkin juga ada bahaya yang mengancam kita di balik tikungan. Namun di tengah semua itu kita mendapat suatu jaminan; Jika kita benar-benar mentaati Firman Tuhan dalam menghadapi keadaan apapun juga, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan. Kaki kita tidak akan menapak di tempat yang berbahaya yang dapat membuat kita tersandung dan jatuh sehingga mengalami cedera atau mendapat malapetaka.

Namun jaminan tersebut berlaku untuk satu “daerah” khusus saja; yaitu hanya di tempat kita akan menapakkan kaki kita pada langkah berikutnya. Tuhan tidak berjanji bahwa kita akan bisa melihat jauh ke depan. Apa yang akan terjadi jauh di depan kita mungkin sama sekali tidak bisa kita ketahui , tetapi hal itu tidak perlu membuat kita khawatir. Yang diminta Tuhan dari kita hanyalah agar setiap langkah, kita ayunkan dengan penuh ketaatan kepada Firman Tuhan.

Bahaya yang terbesar bagi kita adalah jika kita berusaha melihat terlalu jauh ke depan menembus kegelapan itu. Karena dengan berbuat demikian kemungkinan kita bisa kurang memperhatikan tempat yang akan kita pijak yang tepat ada di depan kita, yaitu satu-satunya tempat yang disinari Tuhan setiap kali kita akan melangkah.

Tanggapan Iman:
Tuhan, tunjukkanlah padaku dimana aku harus menaruh kakiku sekarang dengan menaati Firman-Mu. Kuserahkan masa depanku ke dalam tangan-Mu

by : Derek Prince

Kamis, 15 Oktober 2009

3 hal yang dibutuhkan anak-anak


Tiga(3) hal yang dibutuhkan anak-anak dari orangtuanya dengan jelas dinyatakan dalam 1 Korintus 13:13.
Yang pertama ialah iman.
Iman di dalam Yesus Kristus memberi mereka rasa aman karena mengetahui bahwa mereka diterima "di dalam Dia yang dikasihi Allah" bahwa Allah mengasihi mereka tanpa syarat, dan bahwa mereka memiliki keselamatan abadi melalui Kristus.

Kedua, anaka-anak membutuhkan pengharapan bagi kehidupan mereka sendiri secara pribadi.
Sebagai orang tua perlu mengatakan kepada mereka, "Kamu akan semakin bertumbuh di dalam Kristus. Kami harap kamu akan menjadi anak-anak Tuhan yang baik". Amsal 4:18 bahwa "jalan orang yang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari." Anak-anak perlu mengetahui bahwa perjuangan mereka tidak berlangsung untuk selamanya. Mereka akan menjadi serupa seperti Kristus yang sempurna. Bangunlah pengharapan dalam diri anak-anak. Allah menyebutnya pengharapan bagi masa depan yang abadi, pengharapan yang akan menyucikan kehidupan mereka.

Ketiga, anak-anak membutuhkan kasih tanpa syarat, kasih serupa yang disediakan Allah bagi mereka.
Mereka perlu mendengar orang tua berkata, "Kami mengasihi kamu; kami benar-benar mengasihimu; kami akan selalu mengasihimu" dan tidak meragukan bahwa tak ada suatu hal pun yang dapat mengubah komitmen kasih tersebut.

Dalam setiap tahapan, penguatan sangatlah penting. Dalam proses pertumbuhan dan bahkan ketika telah dewasa, anak-anak memerlukan penguatan. Mereka perlu tahu bahwa ayah ibunya mengagumi mereka. Semakin nakalnya mereka, semakin mereka perlu mengetahui bahwa perasaan Anda sepenuhnya terhadap mereka positif.

Itulah bagaimana Allah Bapa yang di surga memperlakukan kita! Ia memandang kita melalui Kristus yang sudah menebus disa kita. Ia berkata, "Aku telah menyediakan anakKu sebagai kebenaranmu dan Aku melihatmu sebagai manusia sempurna di dalam Dia." Maka kita mendapat dorongan untuk terus bertumbuh menjadi seperti yang dikatakan-Nya

Rabu, 14 Oktober 2009

Seorang Pemulung Menyumbang Pakaian Layak Pakai Bagi Korban Gempa



Jika firman Tuhan menceritakan bagaimana seorang janda miskin memberi dalam kekurangannya, itu juga yang dilakukan oleh Misrini (58 th), seorang pemulung di kota Tanjungpinang, kepulauan Riau. Ia menyumbangkan pakaian layak pakai bagi korban gempa di Sumatra Barat. Perbuatannya ini kontan menarik perhatian wartawan dan petugas posko Kelompok Jurnalis Pencinta Sastra di Tanjungpinang.

Dengan sedikit ragu-ragu, Misrini mendekati para petugas yang sedang menjaga posko dan bertanya, "Bolehkah saya ikut menyumbang? Dulu baju dan celana ini dipakai anak saya. Sekarang dia sudah besar, tapi pakaiannya masih bagus." Niat baik Misrini langsung mendapat sambutan hangat dari para petugas yang kagum kepada ibu beranak satu ini. "Saya tidak punya uang yang cukup untuk disumbangkan, hanya ini yang dapat saya berikan," ujarnya menambahkan.

Misrini adalah satu-satunya pemulung yang memberikan sumbangan untuk korban gempa di Sumatra Barat. Sudah 40 tahun ia menjalani profesi sebagai pemulung di kota Tanjungpinang. Dalam sehari penghasilannya hanya sebesar Rp20.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Misrini menyimpan pakaian layak pakai yang hendak disumbangkannya di dalam kantong plastik merah. Ia juga membawa satu tas pakaian layak pakai yang dititipkan oleh para tetangganya untuk ikut disumbangkan bagi para korban gempa.

Kulitnya bisa saja hitam legam terbakar matahari, tapi hati yang dimilikinya seputih kapas, tulus dan penuh belas kasihan. Ia memberi bukan dalam kelebihan tapi dalam kekurangan dan lahir dari hati yang dipenuhi oleh belas kasihan. Dunia ini butuh Misrini-Misrini lain yang akan membawa perubahan agar dunia ini menjadi lebih baik.

sumber : jawaban .com

Selasa, 06 Oktober 2009

Seperti di penjara



Sewaktu saya tinggal di asrama, ada dua teman saya yang sedang bermasalah, padahal hanya persoalan sepele. Oleh karena tidak cepat di selesaikan akhirnya persoalannya menjadi bertambah-tambah dan panjang. Ternyata persoalan tersebut membawa permusuhan yang tidak mudah di carikan jalan damainya. Masing-masing bersikeras tidak mau mengalah. Akibatnya kedua teman saya menyimpan kepahitan satu dengan yang lain. Jika mereka tergabung di satu team, keduanya tidak mau tegur sapa seolah-olah tidak mengenal satu dengan yang lain dan mereka sering bersikap salah tingkah sendiri.

Kebencian dan kepahitan yang di alami oleh kedua teman saya itu telah membuat mereka hidup dengan tidak bebas. Masalah ini pun mungkin kita pernah mengalami. Jika kita bertemu dengan orang yang tidak kita senangi, maka yang terjadi adalah kita tidak merasa tenang dan tidak bebas. Ketika kita tidak bisa mengampuni seseorang, maka kita telah memasukkan orang tersebut ke dalam penjara; dan ketika kita mengampuni seseorang berarti kita telah membebaskan orang tersebut dari dalam penjara. Siapakah orang tersebut? Tidak lain adalah diri kita sendiri. Jadi jika saat ini saudara masih menyimpan kepahitan, ampunilah dia, karena saudara sedang membebaskan anda sendiri. Tidak ada jalan lain untuk hal ini, kecuali melepaskan pengampunan.

Memang tidak mudah untuk memberikan pengampunan, tetapi firman Tuhan mengajarkan agar kita jangan membenci saudara-saudara kita, Rasul Yohanes berkata, jika kita membenci saudara kita berarti kita adalah seorang pembunuh (I Yoh. 3:15), bahkan TuhanYesus sendiri mengajarkan, kalau kita membenci saudara kita berarti kita telah membunuhnya di dalam hati. Jika kita mengasihi Tuhan berarti kita juga mau melakukan perintah Tuhan. Mengampuni seseorang bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi persoalannya adalah apakah kita mau. Keberanian tidak hanya di butuhkan untuk membela hak kita, tetapi keberanian juga di butuhkan untuk mengampuni. Bagaimana dengan Anda, apakah masih ada kebencian yang berakar di dalam hati Anda? Tidakkah Anda ingin hidup bebas? Ampunilah kepada orang yang telah menoreh luka di hati Anda dan biarkan damai sejahtera Tuhan memenuhi hati Anda.

sumber : sabda.org