Kamis, 10 Februari 2011

Rumah dengan Jendela Emas

Ada seorang gadis kecil hidup di sebuah rumah yang sederhana. Seringkali ia merasa menyesal dilahirkan di keluarga miskin seperti itu, apa lagi ketika ia melihat ke seberang lembah dimana terdapat sebuah rumah besar di bukit dengan jendela yang terbuat dari emas berkilauan tertimpa sinar matahari. Gadis kecil itu membayangkan bagaimana indahnya jika ia dibesarkan di rumah dengan jendela-jendela emas itu, dan bukannya di rumah kecil seperti ia tinggali saat ini.

Sekalipun ia mencintai ke dua orangtuanya, dia tidak pernah bisa menghapus keinginan untuk bisa tinggal di rumah besar dengan jendela emas itu. Mimpi itu terus ia simpan hingga ia bertumbuh besar.

Suatu hari ketika ia telah cukup besar dan memiliki ketrampilan yang cukup untuk keluar dari pekarangan rumahnya, dia meminta ijin pada ibunya untuk bisa bersepeda di luar pagar rumahnya dan turun menuju lembah. Setelah memohon-mohon pada sang ibu, akhirnya gadis itu diijinkan asalkan tidak pergi terlalu jauh dari rumah.

Hari itu adalah hari yang cerah dan indah, serta gadis itu tahu pasti kemana tujuannya, dia mengarahkan pandangannya kerumah besar dengan jendela-jendela emas itu. Namun setelah bersepeda cukup jauh dan menaiki bukit di mana rumah itu berada, ia sangat kecewa. Setelah dilihatnya dari dekat, ternyata rumah tersebut tampak tidak terawat dan jendelanya pun tidak terbuat dari emas, bahkan terlihat kotor. Rumah itu tidak tampak seperti yang ia lihat selama ini dari jauh, hanya sebuah rumah yang tidak berpenghuni dan tidak terawatt.

Dengan sedih ia akhirnya memutuskan pulang. Ia memutar sepedanya dan beranjak untuk kembali ke rumahnya. Saat ia mengangkat wajahnya, gadis itu tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Dari sisi bukit dimana ia berada saat ini, ia bisa melihat rumah mungilnya, dan jendela itu.. jendela dimana ia biasa merenung terlihat berkilau bagai emas ditimpa sinar matahari sore.

Gadis kecil itu akhirnya sadar bahwa selama ini ia hidup di sebuah rumah dengan jendela emas seperti yang diimpikannya selama ini. Rumah itu penuh dengan kehangatan dan cinta dari orangtuanya. Semua yang ia impikan sebenarnya ada di dekatnya, namun karena ia terfokus pada rumah lain, ia tidak pernah melihatnya.

Apa yang dialami oleh gadis kecil dalam cerita diatas seringkali kita alami. Kita sering memandang rumput orang lain lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita sendiri. Hasilnya, kita tidak bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Jadi, mulai saat ini ayo kita ubah cara kita memandang, lihatlah bahwa setiap anugrah Tuhan dalam hidup kita adalah sesuatu yang berharga.

sumber : jawaban

Jumat, 04 Februari 2011

11 Resolusi Baru bagi orang tua ditahun 2011




Saya selalu bersyukur ketika menyadari bahwa Tuhan menciptakan pagi hadir setiap hari. Sebab pagi mengawali hidup dengan sesuatu yang baru. Bahkan ketika malam dilalui dengan berat, pagi selalu menyediakan harapan baru. Demikian pula tahun baru. Segala kepenatan dan perjuangan keras di tahun yang lalu boleh dijalani dan dilewati. Namun tahun yang baru memberi pengharapan bahwa hari depan akan dijalani dengan jauh lebih baik. Sebab itu, wajar bila seseorang kemudian memiliki resolusi di tahun baru—sebuah pembaruan komitmen untuk melakukan hal yang lebih baik di tahun yang baru, dengan energi dan semangat baru yang membara.

Khususnya sebagai orangtua, kita juga dapat menyusun resolusi tahun baru yang positif. Yakni, menjadi orangtua yang lebih baik, khususnya bagi anak-anak titipan Tuhan, di tahun 2011 ini. Apa sajakah kiranya resolusi yang dapat diambil orangtua? Berikut adalah beberapa resolusi yang dapat menjadi komitmen Anda dan saya.

1. Lebih banyak menyediakan waktu bagi anak-anak
Mari berkomitmen dan mengusahakan untuk selalu memiliki waktu untuk bersama anak, setiap hari. Bahkan untuk bermain bersamanya, tak hanya “mencarikan mainan” atau “menemaninya” bermain di arena permainan di mal atau pusat hiburan. Sungguh-sungguh ada dan memberi perhatian bagi anak-anak. Charles Francis Adams, seorang diplomat dan tokoh politik abad 19, biasa menulis buku harian. Suatu hari ia menulis demikian: “Pergi memancing dengan anak laki-lakiku—satu hari terbuang begitu saja.” Putranya, Brook Adams, juga biasa menulis buku harian, yang masih ada hingga sekarang. Pada tanggal yang sama, Brook Adams menulis demikian: "Pergi memancing dengan ayahku—sungguh hari yang paling indah di hidupku!” Ketika pergi memancing dengan anaknya, sang ayah merasa bahwa ia sedang membuang-buang waktunya. Padahal, si anak justru merasa bahwa itulah saat paling berharga baginya.

2. Lebih banyak menepati janji, bukan sekadar mengumbar janji
Orang dewasa cenderung mudah berjanji, tetapi bisa mudah juga melupakannya—tidak menepatinya. Anak-anak dianggap sebagai pribadi yang tidak mengingat-ingat janji. Padahal kenyataannya tidak demikian. Anak-anak justru sangat memperhatikan sebuah janji yang diberikan orangtuanya dan menanti-nanti janji itu ditepati. Itu sebabnya lebih baik orangtua tidak berjanji bila belum tentu bisa menepati. Akan tetapi sekali berjanji, misalnya akan mengajak berenang apabila ulangan umum selesai, maka janji itu harus dibayar. Bukankah janji adalah utang?

3. Lebih banyak mendengar daripada buru-buru menghakimi atau bertengkar
Kerap terjadi, ketika masalah muncul, maka orangtua menjadi suara yang paling dominan untuk bicara. Mencoba menyelesaikan masalah anak, walau kadang belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, penghakiman yang tidak benar, justru bisa melukai hati. Maka, ada baiknya kita mencoba menahan diri, dan mendengar dulu apa yang dikatakan anak-anak. Ini justru melatih anak untuk berani berkata benar, dan berani bersikap benar ketika masalah terjadi.

4. Lebih banyak melihat kelebihan, daripada kekurangan anak
Merasakan adanya duri di tengah rumpun mawar memang terasa lebih mudah daripada melihat si mawar cantik di tengah rumpun itu. Melihat kelemahan dan keburukan anak sering juga terasa lebih mudah daripada melihat dan mensyukuri kelebihan anak-anak kita. Ubahlah kacamata ”negatif” kita dengan kacamata ”positif” yang menolong kita untuk lebih banyak menghargai anak kita karena kelebihan-kelebihannya—yang ketika semakin kita hargai, maka kelebihan itu semakin berkembang. Daripada menyoroti kelemahannya terus, hingga kelebihannya pun malah ikut terkikis hilang.

5. Lebih banyak memberi teladan, daripada menuntut
Anak-anak serupa dengan semen basah. Apa saja yang ”jatuh” di atasnya, akan meninggalkan kesan yang ”tercetak” di sana. Apa saja yang dilihat dan didengarnya setiap hari dari perbuatan dan perkataan kita sebagai orangtua, itulah yang akan ”mencetak” kepribadian dan cara hidupnya. Taruhkan banyak kesan positif di hidupnya. Kondisi seperti apa yang Anda ingin ada dalam hidup anak Anda, itulah yang harus Anda hidupi dan tularkan kepadanya. Kita tak dapat menuntut sebuah tanaman ”berbuah baik”, bila kita tak menabur dulu ”benih yang baik” itu.

6. Lebih banyak minta maaf dan memaafkan
Banyak konflik tak terhindari dalam keluarga. Bahkan termasuk dengan anak-anak. Akan tetapi, konflik sebesar apa pun sesungguhnya akan terselesaikan bila ada satu pihak yang mulai mengalah dan meminta maaf. Bila pun anak-anak yang salah, kerendahan hati orangtua untuk meminta maaf lebih dulu, akan menolong anak untuk melihat masalah dengan lebih jernih. Masalah pun lebih cepat selesai. Apalagi kalau anak kemudian menyadari kesalahannya, biarlah orangtua cepat untuk memaafkan sehingga anak pun mengerti bahwa orangtuanya sungguh mengasihinya.

7. Lebih banyak memercayai, daripada menyangsikan
Ketika anak-anak kita minta belajar bertanggung jawab, maka ia perlu latihan untuk bisa melakukannya. Jika kita memintanya belajar membawa gelas kaca, mungkin kita perlu merelakan satu-dua gelas pecah sebelum ia bisa melakukannya dengan baik. Jangan terus menyangsikan apakah anak bisa melakukan sesuatu, sehingga kita terus melakukan tugas itu untuknya. Maka, ia takkan pernah bisa melakukannya. Ini bukan saja tentang membawa gelas. Namun tentang mengambil keputusan, tentang kemandirian, tentang pengambilan tanggung jawab.

8. Lebih banyak menemukan talenta anak, daripada memaksakan keinginan orangtua
Jadilah orangtua yang lebih baik dengan lebih banyak melihat talenta dan karunia khusus yang dititipkan Tuhan dalam diri anak-anak kita. Lalu membantu dan mendukungnya mengembangkan talenta tersebut secara maksimal. Bahkan bila bakat dan kemampuannya sama sekali tidak sama dengan apa yang kita miliki, tidak sama dengan yang kita inginkan. Bila dulu kita bercita-cita ingin jadi penari balet, tetapi anak perempuan kita cenderung ”tomboy”, maka memaksanya menari balet hanya memancing masalah. Bahkan membuat kita tak dapat melihat kelebihannya di bidang lain.

9. Lebih banyak mematikan TV, agar dapat berbicara dari hati ke hati
Televisi kerap kali mencuri waktu kita bersama keluarga. Banyaknya stasiun TV dan program menarik yang ada di TV membuat banyak keluarga—sadar atau tak sadar—terus menerus menyalakan TV di rumah. Bahkan, banyak keluarga telah menjadikan TV sebagai ”pengasuh anak”, yang sanggup membuat anak tenang selama berjam-jam. Padahal, segala sesuatu yang hanya ”ditonton” sama sekali tak membuat otak anak menjadi aktif, justru sebaliknya, menjadi pasif. Cobalah untuk mematikan TV, dan lihatlah bahwa tiba-tiba saja kita memiliki waktu untuk saling mendengar dan saling berkomunikasi. Lihatlah bahwa anak-anak dapat melakukan lebih banyak hal lain yang lebih berguna dan mengaktifkan otaknya bekerja. Misalnya saja, membaca buku.

10. Lebih banyak memeluk dan menunjukkan kasih kepada anak-anak
Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk orangtuanya, akan tumbuh sehat. Mereka cenderung merasa nyaman dan lebih percaya diri. Bahkan, janin yang masih di kandungan pun sangat menyukai sentuhan kasih orangtuanya. Ia cenderung mengalami pertumbuhan yang bagus. Dan kelak, tumbuh menjadi seorang penyayang. Maka, daripada lebih banyak menuding anak dan mematikan kepribadiannya, mari lebih banyak memeluk dan memberi kehangatan kasih bagi anak-anak kita. Rasakan bahwa mereka adalah karunia tak ternilai dari Yesus, yang mempercayai kita untuk mengasihi mereka.

11. Lebih banyak mendampingi anak untuk bertumbuh secara rohani
Yang terakhir, tetapi justru yang terpenting, Tuhan memercayai kita menjadi orangtua agar kita mendampingi anak untuk mengenal, mempercayai, dan mengasihi Yesus. Maka, mari berkomitmen untuk mengajarinya berdoa. Mengajarinya membaca Alkitab. Membimbingnya menaati firman Allah. Menuntunnya untuk mengerti karya Kristus bagi hidupnya. Mengajarnya untuk mengandalkan Tuhan sebagai Pribadi yang selalu dekat di hatinya. Mengajarinya berkata, bertindak, berpikir, sebagaimana Yesus inginkan. Tentu hal-hal ini meminta waktu, energi, dan pikiran kita. Namun, inilah peran terbesar yang dapat kita berikan sebagai orangtua. Bahwa urusan kita sebagai orangtua tak berakhir di dunia yang fana ini saja, tetapi perlu dipertanggungjawabkan hingga di kekekalan.

Selamat membuat resolusi tahun baru untuk menjadi orangtua yang lebih baik—dengan pertolongan Tuhan dan kasih terbaik kita bagi anak-anak.

Disadur dari : gloria

Kamis, 13 Januari 2011

Mengubah beban jadi sayap



Yesaya 40:31

“..tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13; Matius 13; Kejadian 25-26

Ada sebuah dongeng tentang bagaimana awalnya burung memiliki sayap. Mereka awalnya diciptakan tanpa sayap. Kemudian Tuhan membuat sayap dan berkata pada mereka, “Ayo, ambillah beban ini dan tanggunglah.”

Burung-burung itu memiliki bulu dan suara yang indah; mereka bisa menyanyi, dan bulu mereka berkilau tertimpa sinar matahari, tetapi mereka tidak dapat melayang di udara. Mereka awalnya ragu-ragu saat diperintahkan untuk mengambil beban yang diberikan pada mereka, namun mereka mentaati Tuhan dan menaruh beban itu di bahu mereka.

Untuk beberapa saat beban itu terasa berat dan sulit untuk ditanggung, tetapi kemudian, mereka bisa dengan mudah membawanya, mereka melipatnya di dekat hati mereka, lalu sayap itu dengan cepat menyatu dengan tubuh mereka, dan dalam waktu singkat, para burung itu mengetahui cara menggunakan sayap itu, dan mereka dibawa sayap itu terbang di udara – beban itu kini telah menjadi sayap mereka.

Ini hanyalah sebuah perumpamaan. Kita adalah burung-burung bersayap itu, dan kita diberi tugas untuk mengepakkan sayap rohani kita sehingga kita bisa terbang. Kita mungkin melihat beban itu berat, dan berusaha menyingkirkannya, tetapi jika kita mau menanggungnya dan menaruhnya di dekat hati kita, beban itu akan menjadi sayap yang akan membawa kita melambung tinggi di hadapan Tuhan.

Tidak ada beban yang jika kita dengan senang hati menanggungnya dengan kasih dalam hati kita, tidak akan menjadi berkat dalam hidup kita. Ingatlah bahwa Yesus pernah berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:29-30). (Ny. Charles Cowman/Stream in the Desert)

Pikullah kuk yang Tuhan beri, karena beban itu ringan dan membuat Anda bertumbuh menjadi semakin kuat.

Minggu, 02 Januari 2011

Empat Kunci memperolah Damai Sejahtera



Setiap orang dapat menjadi kaya, dapat berbuat baik, tapi sedikit orang merasakan damai sejahtera. Damai sejahtera tidak bisa diperjualbelikan. Kita bisa menutupi diri dengan berpura-pura sukacita, dan itu terlihat dari sikap dan raut wajah, tapi dalamnya hati siapa tahu. Semua orang mencari rasa damai dengan diri sendiri dan lingkungan, tetapi tidak ditemukan rahasianya. Orang-orang berkata bahwa jika ia kaya, maka hidupnya akan damai, tidak perlu kuatir makan, minum dan tempat tinggal. Tapi itu hanya bersifat sementara, karena damai yang sejati tidak bergantung pada hal-hal yang lahiriah. Ada 4 kunci memperoleh damai sejahtera yaitu :

  1. Sabarlah seorang terhadap yang lain

Ketika orang lain tidak percaya dengan apa yang kau kerjakan, bersikap sabarlah terhadap orang tersebut, waktu yang akan membuktikan dan menjawabnya. Anda tidak perlu berusaha memberi bukti pada mereka yang menyangsikanmu, tapi bersabarlah.

Ketika anda membuat keputusan yang salah, dan orang-orang mulai menyalahkan anda, anda tidak perlu memberi penjelasan yang panjang lebar untuk membenarkan diri anda, atau anda justru membenarkan apa yang mereka katakan, tapi bersikap sabarlah, maka hal itu akan membuat anda semakin dewasa, anda mendapatkan satu pembelajaran dari keputusan yang salah itu.

  1. Ampunilah seorang terhadap yang lain

Hidup dalam pengampunan Yesus Kristus adalah sebuah anugerah. Hidup dalam pengampunan terhadap sesama adalah pilihan. Setujukah anda akan hal ini? Ya, anda memiliki pilihan untuk mengampuni orang tersebut atau tidak. Saat anda memilih untuk mengampuni , hati anda akan merasakan damai. Namun jika anda tidak mengampuni, anda hidup dalam sutau kebencian dan dendam. Dan itu akan terus mengikat anda, mungkin anda tidak menyadari tapi “racun “itu terus merasuki hati dan pikiran anda. Anda tidak bisa tidur nyenyak karena anda merasa terintimidasi oleh pernyataan anda yang tidak mengampuni itu. Dan hilanglah damai sejahtera itu. Pilihan ada ditangan anda, dan pilihlah yang terbaik untuk hidup anda.

  1. Kasih sebagai mempersatukan dan menyempurnakan

Kasih yang sejati hanya ditemukan dalam Yesus Kristus. Ketika kita menerima kasih Yesus, limpahkanlah kasih itu pada orang lain, termasuk musuh anda. Kasih memang membuka setiap kesempatan untuk memulihkan diri. Kasih tidak hanya perlu diimani tapi dipresentasikan dalam sikap dan perbuatan kita. Biarkanlah orang lain merasakan kasih anda , karena kasih dapat mempersatukan hal-hal yang bertenatangan seperti beda pendapat, beda pandangan, dan lainnya. Kasih tidak menuntut persamaan derajat, persamaan kondisi, persamaan status dan tidak memandang waktu. Bagaimana dengan musuh anda? Musuh adalah bentuk kasih yang tertunda, artinya kita masih menutup diri kita dari kasih, dan membiarkan tembok pemisah itu menjulang tinggi sehingga kita tidak mempu lagi melihat kebutuhan kasih itu bagi musuh kita, atau sebaliknya. Namun ketika kita memberikan kasih itu , maka tembok itu akan runtuh perlahan-lahan. Setiap orang butuh kasih, termasuk musuh kita. Jadi daripada berlama-lama untuk membenci, lebih baik kita mulai memberi kasih pada musuh kita sehingga terciptanya damai dihati. Miliki sikap rendah hati satu sama lain untuk berbuat kasih. Mulailah lebih dahulu dari diri anda, karena Yesus sudah memberikan kasih itu pada anda. Kasih adalah anugerah, maka berbuatlah demikian juga halnya.

  1. Bersyukur

Yap, bersyukur adalah salah satu kunci damai sejahtera. Banyak orang tidak bisa mensyukuri hidup mereka. Mereka mencari dan terus mencari yang belum ada pada mereka, seperti harta benda. Mereka lupa mengucap syukur dan mungkin memandang ringan ucapan syukur itu. Mengucap syukur berarti kita berterima kasih pada Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah merancangkan hal yang jahat , justru Tuhan memberikan rancangan yang damai sejahtera. Jadi tidak ada hal yang menghalangi kita untuk mengucap syukur pada Dia. Mengucap syukur berarti kita puas dengan keadaan diri kita, tahu keterbatasan kita, dan menyadari campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bersyukur adalah sikap yang positif yang kita pancarkan dalam diri kita. Anda ingin hidup dalam damai sejahtera? Ucapakanlah syukur atas hidup anda sekarang ini.

Jadi kunci damai sejatera bukanlah hal-hal yang lahiriah tapi mengenai sikap dan perbuatan kita. Damai sejahtera bukanlah perasaan yang mengambang, tapi kesadaran diri penuh akan keadaan hati kita dan jiwa kita. Sabar seorang terhadap yang lain, ampuni seorang terhadap yang lain, kasih yang mempersatukan, dan ucapan syukur, inilah yang menjadi acuan kita memperolah damai sejahtera itu. Tuhan Yesus memberkati.